Alhamdulillah, “Universitas Ideal” Itu Semakin Jelas Sosoknya

Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Pada Ahad, 23 Oktober 2022), saya mengisi KULIAH IFTITAH kelas Jurnalistik dan Pemikiran Islam STID Mohammad Natsir. Ini adalah program perkaderan dai TINGKAT S-1, dengan spesialisasi Jurnalistik dan Pemikiran Islam. Dua kompetensi ini sangat diperlukan untuk “eksis dan unggul” di era disrupsi; di era serba internet. 

Ada lima mahasiswa Angkatan ke-2 yang mengikuti kelas ini. Dengan 5 mahasiswa ini, InsyaAllah perkaderan akan bisa berlangsung lebih efektif. Program ini akan dibimbing oleh Dr. Nirwan Syafrin, dan banyak pakar lain dalam bidang jurnalistik dan pemikiran Islam. 

Kepada para mahasiswa saya menjelaskan konsep UNIVERSITAS IDEAL dalam Islam.  Bahwa program ini adalah pendidikan tinggi yang ideal. Inilah universitas yang sebenarnya. Dalam arti: program untuk membentuk manusia yang seutuhnya (a universal man/al-insan al-kulliy). Mereka InsyaAllah akan dididik menjadi pejuang di jalan Allah dengan kompetensi profesionalitas untuk hidup mandiri.

Tepat sepekan lalu, pada 16 Oktober 2022, saya berkesempatan bersilaturrahim dan menanyakan langsung konsep universitas ideal kepada Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas di kediaman beliau. Beliau menjelaskan, bahwa “universitas yang sebenarnya” adalah kampus yang mendidik mahasiswanya, utamanya dengan ilmu-ilmu fardhu ain, seperti ilmu aqidah, ibadah, akhlak, sejarah, dan beberapa lainnya.

Ilmu-ilmu fardhu ain itu adalah ilmu yang diperlukan untuk membentuk pribadi muslim yang baik, pribadi yang sukses dunia akhirat. Ilmu-ilmu fardhu ain itu bersifat dinamis. Misalnya, dalam mengajarkan aqidah Islam, diperlukan pengajaran aqidah yang komprehensif. Bukan hanya diajarkan dengan rukun iman dan sebagainya. Tapi, diajarkan juga tentang paham-paham atau pemikiran yang dapat merusak keimanan, khususnya yang berkembang di zaman ini. 

Begitu juga dalam mengajarkan sejarah. Al-Quran begitu banyak memberikan informasi tentang sejarah. Maka, di universitas Islam, pelajaran sejarah itu harus diberikan dengan serius. Setelah ilmu-ilmu fardhu ain ini diberikan secara baik, maka selanjutnya para mahasiswa bisa belajar ilmu-ilmu fardhu kifayah, baik di kampusnya atau di luar kampusnya.

Dalam karyanya berjudul “Fardu Ain dan Fardu Kifayah dalam Kurikulum Pendidikan Islam” (Kuala Lumpur: Rihla Media, 2021), Mukhlas Nugraha, menjelaskan definisi ilmu fradu ain dan fardu kifayah menurut Imam al-Safii (w. 820 M), Imam al-Ghazali (w. 1111 M), al-Zarnuji (w. 1223 M), an-Nawawi (w. 1277 M), dan Syed Muhammad Naquib al-Attas (Tahun 2022 ini berumur 91 tahun). 

Secara umum, dijelaskan bahwa ilmu Fardu Ain adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim, agar ia bisa melaksanakan kewajibannya dengan baik. Ilmu ini diperlukan agar setiap muslim selamat dan bahagia dunia akhirat. 

Sementara ilmu fardu kifayah, adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian orang muslim. Tetapi, harap dicatat, ada panduan dalam menekuni ilmu fardu kifayah. Menurut Imam al-Ghazali, ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam mencari ilmu fardu kifayah:

(1)  Harus mengunggulkan dan mengutamakan ilmu fardu ain di atas ilmu fardu kifayah.

(2)  Mempelajari ilmu fardu kifayah secara bertahap.

(3)  Menghindarkan diri dari mengkaji ilmu fardi kifayah yang sudah dikaji secara mencukupi oleh banyak orang. 

Konsep keilmuan Islam seperti inilah yang sepatutnya diterapkan dalam kurikulum pendidikan di Universitas Ideal, khususnya yang sudah menggunakan label sebagai Universitas Islam. Dengan kurikulum seperti ini,  insyaAllah akan terbentuk manusia yang mampu menjalankan tugas hidupnya sebagai abdullah dan khalifatullah fil ardh

Perintah Rasulullah saw sangatlah jelas, bahwa setiap muslim wajib mencari ilmu. Yang wajib dicari bukan semua ilmu dan sembarangan ilmu. Ilmu yang salah dan guru yang salah bisa mengantarkan terbentuknya ilmuwan-ilmuwan atau pemimpin-pemimpin yang salah atau pemimpin palsu. Ilmu yang salah mengantarkan kepada kekacauan ilmu dan hilangnya adab. 

Karena itu, betapa “mirisnya” jika ada orang tua mengantarkan anak-anaknya untuk kuliah di Perguruan Tinggi yang mengajarkan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, bahkan ada ilmu-ilmu yang mudharat. Yakni, ilmu-ilmu yang semakin menjauhkan pemiliknya dari Allah SWT. Ilmu-ilmu yang salah ini tidak akan mengantarkan manusia untuk semakin dekat dengan Allah dan semakin bahagia hidupnya, karena jiwanya tidak berzikir kepada Allah.

Menyimak konsep universitas ideal semacam itu, Program Kuliah Jurnalistik dan Pemikiran Islam – STID Mohammad Natsir, bisa dikatakan sebagai salah satu model universitas ideal. Para mahasiswa dites lagi penguasaan ilmu-ilmu fardhu ain, diuji kemampuan baca al-Quran, dibimbing adab atau akhlaknya, dikokohkan pemikirannya, dan juga diberikan ketrampilan komunikasi. Semua itu sangat diperlukan bagi eksistensi dan keunggulan kader-kader dai untuk dapat menjalani kehidupan dan dakwahnya dengan baik. 

                                                            *****

Memulai program pendidikan yang ideal, biasanya dimulai dengan jumlah murid atau mahasiswa yang tidak banyak. Tahun 2013, Pesantren At-Taqwa Depok memulai program pendidikan dengan 5 orang santri, mulai kelas 5 SD. Kami yakin dengan konsep pendidikan berbasis adab yang unggul. Juga kualitas guru yang berilmu dan ikhlas serta semangat dalam mengajar. Kini, Pesantren At-Taqwa diamanahi mendidik lebih dari 200 santri. 

Prof. Syed Naquib al-Attas memulai pendidikan ISTAC dengan 5 orang mahasiswa dan mengontrak rumah. Hasilnya, kemudian bisa dilihat. Dari kampus ini lulus banyak ilmuwan yang berkualitas tinggi seperti Prof Hamid Zarkasyi, Dr Ugi Suharto, Dr Syamsuddin Arif, dan sebagainya. 

Ketika saya mengambil S2 Hubungan Internasional di Universitas Jayabaya, saya selalu kuliah  sendirian. Sebab, yang mendaftar angkatan 1996 hanya saya sendiri. Dengan kondisi itu, alhamdulillah, saya cukup akrab dengan banyak dosen yang mengajar.

Ketika kuliah di ISTAC-IIUM, saya mengambil mata kuliah ISLAM AND THE WEST dengan Prof Mudathir Abdulrachim dari Sudan. Mahasiswanya juga saya sendiri. Setiap kuliah, hanya berdua dengan dosennya. Alhamdulillah, kuliah itu sangat berkesan. Bersama dg Dr Nirwan Syafrin, saya menyelesaikan kuliah Bahasa Latin selama 3 semester, bersama Prof. Paul Lettinck dari Belanda. 

Menurut Prof. Naquib al-Attas, hakikat pendidikan adalah proses penanaman nilai-nilai kebaikan dalam diri manusia sebagai manusia. Pada taraf awal, proses ini memerlukan interaksi yang intensif antara dosen dengan mahasiswa. Semakin banyak mahasiswa, akan semakin berat pula proses penanaman nilai-nilai kebaikan itu. 

Alhamdulillah, Allah telah menggerakkan hati para orang tua dan hati para mahasiswa untuk mengikuti Kelas Jurnalistik dan Pemikiran Islam ini. Insyaallah, dengan pertolongan Allah, para mahasiswa ini akan menjadi bagian dari proses kebangkitan peradaban Islam di masa depan. Mohon doanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *