Mengenang Kedekatan Syaikh Yusuf Qaradhawi dengan Pak Natsir dan Dewan Da’wah

Oleh: Dudy S.Takdir (Ketua Bidang Kominfo Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Senin (26/09/2022) kabar mengagetkan itu datang, Syaikh Dr. Yusuf Qaradhawi meninggal dunia. Kabar itu pertama kali disampaikan melalui akun twitter resmi milik beliau sekira pukul 17.24 WIB. Ia lahir di Mesir pada 9 September 1926, meninggal dalam usianya yang ke-96 tahun di Qatar.

Syaikh Yusuf Qaradhawi merupakan salah satu ulama produktif yang menulis banyak kitab dalam berbagai bidang keilmuan. Kitab-kitabnya juga sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Beliau memang beberapa kali berkunjung ke Indonesia, salah satunya pada tahun 1979 memenuhi undangan dari Allahuyarham Mohammad Natsir. Dalam agenda kunjungannya itu, selain ke kantor Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, beliau juga berkunjung ke berbagai lembaga Islam lainnya seperti Majelis Ulama Indonesia menemui Buya Hamka.

Dalam kunjungannya itu, ia mengakui bahwa dirinya kagum terhadap kegigihan Pak Natsir dalam berdakwah. “Terakhir beliau berkunjung ke Dewan Da’wah dan ceramah di Masjid Al-Furqan Kramat Raya yakni saat pembangunan masjid belum selesai, shalat masih di lantai dua, itu sekitar tahun 1988 atau tahun 1989,” ungkap Kepala Perpustakaan Pusat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Ustadz Abdul Kadir Badjuber.

Syaikh Qaradhawi mengisi ceramah di Masjid Al Furqan, Kramat Raya 45. Kredit foto: Perpustakaan Pusat Dewan Da’wah

Hubungan Syaikh Qaradhawi dengan Dewan Da’wah memang bisa dibilang cukup erat, hal ini lantaran jejaring Pak Natsir di Timur Tengah juga sangat luas. Dan ketokohan Pak Natsir di dunia dakwah melampaui batasan geografis.

Hal tersebut terkonfirmasi saat delegasi Pimpinan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang diwakili oleh Allahuyarham Ustadz Mohammad Siddik dan Ustadz Abdul Wahid Alwi menyambangi kediaman beliau di Doha, Qatar pada tahun 2016.

Saat disampaikan bahwa tamunya adalah perwakilan Dewan Da’wah, Syaikh Qaradhawi langsung menyambut dengan sangat hangat. Beliau bercerita tentang kedekatan hubungannya dengan Pak Natsir. Beliau mengaku bahwa perjuangan Pak Natsir sangat menginspirasi.

“Kunjungan tersebut adalah ‘sambung tali perjuangan’, karena beliau sangat bersahabat dengan Pak Natsir,” kisah Ustadz Abdul Wahid Alwi.

Ikatan persahabatan kedua tokoh tersebut tercermin salah satunya melalui International Islamic Charity Organization (IICO) di Kuwait, organisasi yang didirikan Syaikh Qaradhawi bersama Pak Natsir dan tokoh dunia lainnya.

“Beliau sangat welcome karena kami adalah putera perjuangan Pak Natsir, dan kami diberi hadiah buku-buku. Dalam pertemuan itu, beliau berpesan supaya perjuangan Pak Natsir dilanjutkan,” lanjut Ustadz Abdul Wahid Alwi.

Direktur Akademi Dakwah Indonesia Depok, Nuim Hidayat yang pernah mendengar ceramah Syaikh Qaradhawi langsung di kediaman dinas Dr. Hidayat Nurwahid mengatakan Syaikh Qaradhawi merupakan seorang ulama penganjur jalan moderat dan mengajak agar para pemuda meninggalkan sikap ghuluw (ekstrim) dalam beragama.

Kredit foto: Perpustakaan Pusat Dewan Da’wah

Ia mengutip hadits Rasulullah saw, ”Ilmu ini di dalam setiap generasi akan diemban oleh orang-orang yang adil. Mereka akan menyingkirkan penyimpangan orang-orang yang ekstrim, kedustaan pembuat kebatilan dan takwil orang-orang yang bodoh.”

Syaikh Qaradhawi juga mengutip hadits Rasulullah, ”Jauhilah sikap berlebihan dalam beragama, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur karena sikap berlebihan dalam agama.” (HR Ahmad)

Ketika menjelaskan tentang Indonesia, Syekh Qardhawi menyatakan bahwa Islam datang ke Indonesia dengan jalan damai. Dan kini Islam mewarnai mayoritas tanah air Indonesia. Ia juga menyatakan bahwa buku-bukunya silakan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan ia tidak meminta royalti.

Kisah kehidupan Syaikh Qaradhawi menjadi ibrah bagi generasi kini dan nanti, bahwa dakwah harus berjalan dan ditopang dengan ilmu yang mumpuni. Seorang dai, tak cukup hanya bermodal kemampuan ceramah dan bicara di depan khalayak, tapi juga harus memiliki pemahaman agama yang cukup serta keikhlasan mengarungi medan perjuangan. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *