Tasyakur Umur 20 Tahun, Mahasiswa Dewan Da’wah Sampaikan Presentasi Tentang Kebangkitan Umat

Oleh Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Nikmat umur memang patut disyukuri. Itu anugerah Allah SWT. Banyak cara yang biasanya dilakukan. Ada yang berpesta pora, makan-makan bersama, dan ada juga yang bagi-bagi sedekah untuk anak yatim. 

Fatih Madini,  mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir, melakukan cara yang unik saat mensyukuri umurnya yang ke-20. Pada 8 September 2022 malam, ia mempresentasikan gagasannya tentang kiat membangun Budaya Ilmu di kalangan santri, pelajar, atau mahasiswa. 

Gagasan itu disampaikan secara sistematis dalam suatu forum diskusi online yang dihadiri sekitar 190 peserta. Dalam paparannya, Fatih Madini berusaha meyakinkan, bahwa terwujudnya Budaya Ilmu adalah prasyarat bagi kebangkitan suatu umat atau bangsa. 

Ia menguraikan kondisi Budaya Ilmu, dengan merujuk kepada pelopor ide Budaya Ilmu, yaitu Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud. Bahwa, dalam masyarakat yang berbudaya ilmu, maka ilmulah yang dipandang sebagai satu keutamaan tertinggi. Individu dan masyarakat juga memberi keutamaan, bantuan, kemudahan dan pengiktirafan yang tinggi kepada siapa saja yang melibatkan diri mencari dan menyebarkan ilmu. Pribadi atau masyarakat juga tidak mengiktiraf sifat jahil, bebal dan anti-ilmu.

Fatih Madini mengajukan gagasan, untuk menanamkan budaya ilmu di kalangan santri, pelajar, atau mahasiswa, maka perlu dilakukan empat hal: (1) Memahami kemuliaan dan urgensi ilmu beserta tradisinya dalam Islam (2) Menelaah sejarah kegemilangan ilmu pengetahuan dalam Peradaban Islam (3) Mengikis penyakit “Sekolahisme” dan “Linierisme” (4) Mendudukkan aktivisme dan intelektualisme secara adil.

Dalam banyak ayat al-Quran dan hadits Nabi Muhammad saw, ilmu memang diletakkan di tempat yang mulia. (Lihat: QS 58: 9, 39: 9, 20: 114, dll.). Rasulullah saw menyebutkan, bahwa orang yang mencari ilmu, sejatinya sedang berjihad di jalan Allah. Orang yang berilmu (ulama) diamanahi sebagai pewaris Nabi. 

Sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan: “Ilmu lebih baik dari harta. Ilmu yang menjagamu sedangkan harta kamu yang jaga. Ilmu bisa berperan sebagai hakim sedangkan harta selalu saja yang dihakimi (dipertanggungjawabkan). Dan harta akan berkurang ketika diberikan sedangkan ilmu, saat diberikan akan semakin bertambah”  

Fatih Madini menguraikan sejarah panjang kegemilangan umat Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Sejarah ini perlu diuraikan dengan gamblang kepada para santri, pelajar, dan mahasiswa, agar mereka merasa bangga dengan sejarah peradaban Islam. 

Berikut ini sejumlah contoh ilmuwan-ilmuwan muslim yang sangat besar jasanya dalampengembangan ilmu pengetahuan:

(1) Al-Khawarizmi, pencetus angka-angka Arab dan sistem persepuluhan (decimal). 

(2) Abu ‘Abbas al-Fadzal Hatim an-Niraizi, membuat planetarium. 

(3) Tsabit ibn Qurrah Mengukur tinggi dan lama tahun matahari (365 hari, 5 jam, 49 menit, 12 detik). 

(4) Abu Raihan ibn Ahmad al-Biruni: pakar fisika (ilmu alam) dan filsafat.  Kitabnya, al-Atsaru al-Baqiyah ‘an al-Qurun al-Khaliyah, membahas seputar sistematika sinar/cahaya, warna-warni dan optika. 

(5) Ali-al-Hasan ibn al-Haitsam. orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Ia mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat. Dikenal juga sebagai pembuat perangkat yang disebut sebagai Camera Obscura atau “pinhole camera”.  

(6) Jabir ibn al-Hayyan: Bapak kimia: Penemuasam karbid, teori penguapan sampai sublimasi

(7) Muhammad ibn Syarif al-Idrisi: ahli ilmu bumi: Mampu menciptakan globe dari perak dan 71 peta.

Untuk hal ketiga, Fatih Madini mengajukan gagasan, agar budaya ilmu tumbuh, maka para pelajar, santri,  mahasiswa, jangan menganggap bahwa mencari ilmu itu hanya sebatas di sekolah atau kampus. Sebaliknya, di mana saja dan kapan saja, adalah tempat dan waktu untuk belajar. 

Terakhir, untuk menumbuhkan budaya ilmu, maka para pelajar, santri, dan mahasiswa, harus menyeimbangkan antara aktivisme dan intelektualisme. Di samping aktif dalam berbagai aktivitas dakwah, maka aktivitas mencari ilmu harus tetap dilakukan dengan serius. 

Secara lebih lengkap, gagasan Fatih Madini dapat dibaca dalam bukunya: Solusi Kekacauan Ilmu. Fatih Madini (lahir: 9 September 2002) adalah mahasiswa kelas Jurnalistik dan Pemikiran Islam – STID Mohammad Natsir. Kelas ini merupakan program S1 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Kelas ini dirancang sebagai sarana untuk kaderisasi ilmuwan dan pemimpin dalam berbagai bidang kemasyarakatan. 

Saat berumur 16 tahun, Fatih Madini menerbitkan buku pertamanya: Mewujudkan Insan dan Peradaban Mulia (Depok: YPI At-Taqwa, 2018). Atas permintaan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, buku ini pernah dipresentasikan Fatih Madini di Forum Internasional, Saturday Night Lecture,  di CASIS-Universiti Teknologi Malaysia Kuala Lumpur. 

Tahun 2018, terbut buku keduanya, berjudul:  Reformasi Pemikiran Pendidikan Kita (Depok: YPI At-Taqwa, 2020). Sedangkan, buku ketiganya berjudul Solusi Kekacauan Ilmu, terbit tahun  2021.  Buku ini merupakan hasil riset yang cukup panjang. 

Semoga semakin banyak anak-anak muda Indonesia yang berpikir merdeka dan memiliki gagasan besar serta berani mengambil langkah besar untuk kejayaan umat dan bangsa Indonesia. Aamiin. (Pekalongan, 9 September 2022). 

Catatan: Rekaman diskusinya dapat diakses di channel Youtube Dakho TV dengan klik di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.