Mukernas ADI: Pertemuan Bandung yang Bersejarah

Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

​Gerak dan kiprah Akademi Dakwah Indonesia (ADI) semakin berkembang. Kini, ada 28 ADI tersebar di berbagai kota di Indonesia. Pada 12-14 Agustus 2022, para pengelola ADI berkumpul di Bandung, untuk mengadakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) ke-3. 

​Acara itu digelar oleh Bidang Pendidikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Mukernas ADI ke-3 ini dilangsungkan di Bandung Jawa Barat dengan dihadiri oleh 25 Pengelola ADI dari seluruh Indonesia. Hadir juga para dai dari berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Barat. 

​Mukernas ADI ke-3 secara resmi dibuka oleh Wakil Ketua Umum Dewan Da’wah Bidang Pendidikan, Da’wah dan Kaderisasi, Dr. Mohammad Noer. Dalam sambutannya ia menjelaskan perjalanan Mukernas ADI sejak awal hingga hari ini. Mukernas ini awalnya dinamakan sarasehan dan dilaksanakan tahun 2014.

​“Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan ke dua tahun 2018 yang diubah namanya menjadi Mukernas. Maka tahun ini ketika kembali dilaksanakan disebutlah sebagai Mukernas ADI ke-3,” jelasnya.

Mukernas ADI kali ini menjadi spesial karena dikombinasikan dengan Pelatihan Dai Nasional yang bekerjasama dengan Bamuis BNI. “Ini merupakan Pelatihan Dai ke 14 bersama Bamuis BNI, semoga dapat terus berjalan,” terang Ustadz Dr. Ahmad Misbahul Anam, Ketua Bidang Penempatan Dai Dewan Da’wah Pusat.

​Lebih lanjut dalam arahannya, ia menyampaikan bahwa pelatihan untuk para dai senantiasa diperlukan untuk terus menjaga dan meningkatkan semangat para dai. 

“Para dai harus memulai gerakan dakwah dari apa yang ada dan terus ditekuni. Para dai juga harus bersabar dalam menghadapi kader, sebab kaderisasi memerlukan proses yang panjang,” pesannya.

​Sementara itu, Ketua Dewan Da’wah Bidang Pendidikan, Dr. Ujang Habibi, menjelaskan bahwa Mukernas ADI merupakan program rutin dalam rangka mensosialisasikan kebijakan dan menyamakan persepsi seluruh pengelola ADI. 

“Acara ini juga sekaligus sebagai wahana evaluasi dan monev penyelenggaraan ADI agar terus ada peningkatan kualitas mutu dan peran ADI sesuai tema acara,” ujarnya.

Mukernas ADI ke III ini mengusung tema “Penguatan Mutu dan Peran Akademi Dakwah Indonesia Untuk Bangun dan Selamatkan Indonesia dengan Da’wah”. Harapannya agar ADI semakin bermutu sehingga perannya semakin dirasakan oleh umat dan bangsa. (www.mediadakwah.id).

*****

​Dalam acara Mukernas ADI di Bandung itu, saya menjelaskan sejarah perjuangan para tokoh bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan, khususnya bidang Pendidikan Tinggi. Hasil Kongres Masyumi tahun 1944 mengamanahkan pembentukan Panitia Pendirian Perguruan Tinggi Islam yang dipimpin oleh Mohammad Hatta. Sekretarisnya Mohammad Natsir. 

Tujuh tahun sebelum itu, Mohammad Natsir telah menulis satu makalah dengan judul “Sekolah Tinggi Islam”. Nama inilah yang kemudian dijadikan sebagai nama Universitas Islam yang pertama di Indonesia. Bahkan, bisa dikatakan, inilah Perguruan Tinggi pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. STI berdiri 8 Juli 1945. 

Begitulah kehebatan visi pada pendiri bangsa Indonesia. Mereka mendirikan satu universitas sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Sebagai ketua panitia, Bung Hatta mencitakan universitas Islam ini dapat melahirkan ulama-ulama yang mumpuni.

Berdirinya STI merupakan satu bentuk perlawanan para tokoh bangsa kita terhadap dominasi pendidikan tinggi asing. Jadi, semangat perjuangan itulah yang mendasari pendirian STI. Tanpa semangat perjuangan dan pengorbanan, tidak berdiri STI. Bahkan, tidak juga terjadi Proklamasi Kemerdekaan RI. 

Jiwa dan semangat perjuangan itulah yang perlu terus dihidupkan di dunia pendidikan tinggi kita. ADI adalah salah satu contoh pendidikan tinggi yang dibangun dengan semangat perjuangan. Para mahasiswa ADI dididik sebagai dai pejuang yang siap diterjunkan ke tengah masyarakat. Tugas mereka sangat mulia, meskipun tampak sederhana. Yakni, bagaimana mendidik masyarakat agar menjadi insan beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. 

Dalam beberapa kali memberikan kuliah untuk mahasiswa ADI di berbagai daerah, saya mengingatkan kepada para mahasiswa, bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang mulia dan sangat strategis. Mengajar masyarakat agar bisa shalat yang benar, mengaji yang benar, dan memiliki akhlak yang baik, bukanlah hal kecil. Ini pekerjaan besar dan strategis dalam membangun peradaban bangsa yang mulia. 

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim!” (QS Fushshilat: 33). 

​Jadi, Allah sudah menjamin, bahwa aktivitas terbaik adalah perjuangan dalam pendidikan agar manusia menjadi hamba Allah yang mengenal Allah dan mentaati perintah serta larangan-Nya. ADI telah meluluskan ribuan dai. Mereka ada yang langsung berkiprah di tengah masyarakat. Banyak pula yang melanjutkan kuliah ke Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir. 

​Pendidikan di ADI sepenuhnya ditanggung pembiayaannya oleh Dewan Da’wah setempat, dengan dukungan para donatur. Pertemuan para pengelola ADI di Bandung 12-14 Agustus 2022, bisa dikatakan satu peristiwa bersejarah. Mengelola ADI bukan pekerjaan mudah dan ringan. Mendidik seorang menjadi dai pejuang, memerlukan pengorbanan dan keteladanan. 

Karena itulah, kita doakan semoga para pengelola ADI diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk tetap istiqamah dalam perjuangan. Aamiin. (Samarinda, 14 Agustus 2022).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *