Mohammad Natsir di Mata Keluarga

Jakarta, dewandakwah.com–Fauzi Natsir dan Aisjah Natsir anak-anak dari Allahuyarham Mohammad Natsir bercerita tentang sosok ayahnya dalam webinar “114 Tahun Mohammad Natsir: Reaktualisasi Pemikiran dan Perjuangan”. Mohammad Natsir adalah seorang ayah yang memberi kebebasan penuh kepada anak-anaknya untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Namun, Mohammad Natsir sebagai orang tua tetap mendampingi anak agar tidak salah dalam menentukan pilihan.

“Dalam pendidikan misalnya, kami diberikan kebebasan sesuai apa yang kami mampu dan yang kami bisa. Dalam perjalannya ada yang belajar ke IKIP, FISIP UI dan saya dari IPB,” kata Fauzi di depan para peserta webinar, Ahad (17/7/2022) malam.

Meski demikian, kata Fauzi, anak-anak tetap bertanya kepada M. Natsir apa yang dipilih sudah benar atau belum. Misalnya ketika dirinya pindah dari pekerjaannya di IPB menjadi PNS di Kementerian Perdagangan. 

“Beliau waktu itu khawatir sekali, karena saat itu sedang dicekal oleh pemerintah. Tapi tetap, saya beranikan bahwa saya bisa bekerja di sana. Dan beliau berpesan, berjuanglah dan jaga nama baik keluarga. Contohnya saat dipindahkan ke Sumatera, saya merasakan bagaimana orang-orang di sana sangat full power.  Karena ingat pesan beliau, saya mengindahkan dan berjuang bekerja di sana,” ceritanya.

Berbeda dengan Aisjah, meski diberikan kebebasan pendidikan, ia meneruskan profesi  Abah dan Uminya untuk menjadi guru.

“Padahal saya senang psikologi. Setelah mulai mengajar, saya dinasehati beliau untuk jangan hanya depan kelas saja, tapi harus tahu institusi pendidikan itu, apa itu sekolah. Jadi saat di sekolah saya ikut kegiatan direktur kepala sekolah dan memerhatikan keseharian murid-murid saya perhatikan. Jadi meminta dalam hal bekerja harus komplit. Meski mengatakannya begitu saja, tapi tidak detail dan tidak maksa,” katanya.

Saat di Rumah

Saat di rumah, Fauzi bercerita bahwa beliau suka mengajak anak-anaknya berdiskusi dan berdebat. Baik ketika ada masalah di luar, kasus ataupun masalah keluarga.

“Disitu saya lihat Pak Natsir mendidik secara tidak langsung dan ingin melihat pandangan pendapat anak-anak.  Sebagai anak, saya lihat agak aneh apa yang ia lakukan pada kami. Namun, rupanya apa yang disampaikan beliau menjadi bekal kehidupan,” katanya.

Menghormati Tamu 

Fauzi melanjutkan ceritanya saat bagaimana Sang Ayah tidak memilih-memilih tamu saat datang ke rumahnya. Apakah itu orang yang pernah mengecewakan beliau, tokoh penting maupun sekadar seorang supir.

“Ada sekretaris beliau membelot, dan dia sekolahkan oleh pemerintah ke Amerika. Setelah kembali ke dan kuliah di Hasanudin untuk mengambil gelar doktornya dan datang ke Pak Natsir memberikan disertasinya, untuk meminta nasehat. Beliau tetap menemui dan memberikan masukan bahwa disertasinya sudah cukup baik,” katanya.

Senada dengan Fauzi, kalau ada rapat malam, tamu membawa supir. Natsir selalu menyuruh anak-anak memberi supir itu makan dan kopi. Jadi mereka senang sekali saat bertamu. 

“Jadi dia memerhatikan yang kecil dan besar, apakah itu supir, duta besar itu tetap diperhatikan,” ujar dia. 

Begitu juga saat ada tamu dari Bosnia ketika beliau di rumah sakit. Aisjah  diminta membeli hidangan.

Tidak Mengambil dan Menggunakan Fasilitas

Fauzi kemudian bercerita bagaimana saat berada di Kuala Lumpur menemani ayahnya. 

“Di sana beliau memberikan saya uang untuk membeli buku dan tidak memberikannya seperti yang lain yang sudah dipaketkan buku-bukunya. Jadi secara tidak langsung mendidik saya untuk tidak menyalahgunakan fasilitas. Begitu juga untuk pergi haji. Meski, Pak Natsir tiap diberikan fasiltas tiap tahun pergi haji dan bisa membawa anak-anaknya. Tapi beliau bilang kepada saya bahwa dalam pergi haji kamu harus gunakan uang sendiri. Jadi saya dilatih secara berpiir untuk tidak menggunakan fasilitas. Bukan uang Dewan Da’wah, tapi uang Pak Natsir sendiri. Ini sangat berpengaruh buat saya sampai sekarang,” ungkap dia.

Senada dengan Fauzi, Aisjah bercerita bahwa mereka tidak dizinkan menggunakan fasilitas haji Pak Natsir, tapi dengan biaya sendiri. 

“Padahal di Dewan Da’wah tiap tahun dikirim ustaz-ustaz dari berbagai daerah, tapi anak-anaknya tidak. Hanya umi yang dibawa dua kali. Itulah sebagian kecil dari keseharian dan bagaimana hidup dalam keluarga. Bagaimana berdakwah itu juga di rumah dengan demikian, kita juga harus menjadi dai dengan kemampuan masing-masing,” kata Aisjah menutup ceritanya.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *