Amin Djamaluddin, Kader Natsir: Kuat Mengawal Akidah dari Rongrongan Aliran Sesat

Oleh: M. Anwar Djaelani (Ketua Bidang Bidang Pemikiran dan Ghazwul Fikri Dewan Da’wah Jatim)

Kamis 30 Juni 2022 KH Amin Djamaluddin wafat. Banyak yang berduka atas kepergian tokoh yang bisa dibilang sebagai ulama yang lengkap itu. Di antara yang paling diingat masyarakat, adalah kegigihan Almarhum dalam membentengi akidah umat Islam dari kemungkinan tercemar karena godaan berbagai aliran sesat.

Amin Djamaluddin ulama yang lengkap, kata Dr. Adian Husaini. Hal ini karena dia “Tekun dalam meneliti pemikiran keagamaan, cakap berceramah, terampil menulis, dan pandai melakukan lobi,” jelas Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Imdonesia itu.

Amin Djamaluddin disebut lengkap, tambah Adian Husaini, karena dia juga mendirikan sekolah dan pesantren. Memang, Almarhum mendirikan Yayasan Islam Al-Qalam pada 1979. Lebih khusus lagi, dia pimpinan Pondok Pesantren Al-Qalam 1986-2016.  

Sangat Kritis   

Amin Djamaluddin kritis melihat berbagai fenomena keagamaan yang ada di masyarakat. Dia berani menghadapi para pengusung aliran yang menyimpang. 

Dia memuliakan Islam dengan cara memanfaatkan semua peluang model dakwah. Dia bisa memberi nasihat yang baik dengan cara berceramah, misalnya. Dia mampu menyodorkan hikmah sehingga terbedakan antara yang haq dengan yang bathil lewat tulisan, misalnya. Bahkan, dia tak gentar berdebat dengan para pentolan aliran sesat.

Justru tersebab sikap kritisnya itu, Dr. Natsir tertarik untuk mengenal Amin Djamaluddin lebih dekat. Berikut ini kisahnya.

Suatu ketika, Amin Djamaluddin menulis di harian Pelita. Isinya, mengritisi pemikiran akademisi UIN Jakarta Prof. Harun Nasution (tentang siapa Harun Nasution, ada di buku “50 Tokoh Islam Liberal di Indonesia”, 2008: h. 36-41). 

Tulisan Amin Djamaluddin menarik perhatian Dr. Natsir, Ketua Umum Dewan Da’wah saat itu. Lalu, Natsir berusaha mencari tahu siapa Amin Djamaluddin. 

Singkat kata, Amin Djamaluddin kemudian diundang ke Dewan Da’wah. Di sana, dia yang berlatarbelakang aktivis Pemuda Persis, lalu diberi amanah khusus oleh Natsir untuk menekuni bidang pemikiran Islam di Dewan Da’wah. Tugas ini pas dengan dirinya yang suka membaca, rajin mengamati perkembangan masyarakat, dan punya hobi menulis.

 Pesan Natsir kepada Amin Djamaluddin, agar dia menekuni bidang pemikiran Islam dan biaya atas aktivitas ini akan dibantu Dewan Da’wah. Maka, ketika kemudian Amin Djamaluddin menunjukkan banyak aktivitas yang bermanfaat di bidang pemberantasan aliran sesat, banyak yang menaruh simpati. 

Salah satu pihak yang bersimpati adalah Atase Agama Saudi Arabia. Hal itu diwujudkan dengan cara membelikan Amin Djamaluddin sebuah kantor di Jakarta. Tak hanya itu, dia diberangkan haji dan dipertemukan dengan sejumlah pemimpin Saudi Arabia.

Sederhana tapi Berilmu  

Bagi yang mengenal Amin Djamaluddin, pasti berkesimpulan bahwa dia itu pribadi sederhana. Dalam bahasa Tohir Bawazir (seorang aktivis dakwah sekaligus sahabat almarhum), dia itu “Telah selesai dengan urusan dunia sehingga tidak akan tergoda”. 

Di balik kesederhanaannya, jangan ditanya kedalaman ilmunya terutama di bahasan aliran sesat. Baca buku-buku dia. Simak kiprah dia dalam melawan aliran sesat. 

Tentang kedalaman ilmu dan jejak panjang dakwahnya, mari ikuti testimoni dari banyak orang. Bahwa, pada 2 Juli 2022 Dewan Da’wah menyelenggarakan acara “Malam Takziyah atas meninggalnya Allahuyarham KH Amin Djamaluddin (pakar aliran keagamaan dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam – LPPI)”. 

Di acara tersebut, muncul berbagai testimoni menarik. Testimoni berasal dari sahabat-sahabat seperjuangan dan keluarga almarhum.

Awal, Dr. Adian Husaini berkesaksian bahwa Amin Djamaluddin itu seperti sebuah ensiklopedi. Pernah, untuk persiapan menjelang debat di sebuah stasiun televisi tentang Ahmadiyah, Adian Husaini-cendekiawan Muslim dengan puluhan karya buku itu-merasa perlu belajar kepada Amin Djamaluddin untuk mendapat bekal.

Setelah belajar dengan cara datang ke rumah Amin Djamaluddin, dalam beberapa jam Adian Husaini sudah merasa cukup mendapat ilmu. Dia siap berdebat di televisi. Lalu, antara lain dari pengalaman itu, Adian Husaini semakin yakin jika Amin Djamaluddin itu tokoh yang berilmu tinggi.

Kaya Data 

Ketua STID Mohammad Natsir Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I., mengungkapkan: “Amin Djamaluddin mendapat jadwal tetap mengajar di STID Mohammad Natsir. Dia sedikit bicara, banyak data. Data yang dia punya, hidup. Hal ini, karena data itu telah dia analisis. Dia kuat dalam mengolah data. Hasilnya, pihak yang membaca kajiannya mudah dalam memahami apa yang disajikannya”. 

“Dia luar biasa! Langkahnya ilmiah dan akurat,” kenang Ketua Dewan Da’wah Aceh Prof. Dr. Muhammad AR. Benar, dia “Selalu berbasis data,” tambah Ketua Dewan Da’wah Sumatera Utara Dr. Khairul Azhar.

Tekun, Pekerja Keras, Berani

Masih di acara “Malam Takziyah” itu. Mulyanah, isteri Amin Djamaluddin, mengisahkan bahwa suaminya itu pribadi yang tekun dan pekerja keras. Dia kumpulkan bahan sebanyak mungkin. Dia analisis data itu lewat tulisan yang lengkap-menyeluruh. Untuk itu, dia sering mengkaji persoalan umat sampai larut malam.

Tak cukup mengkaji masalah. Tapi, Amin Djamaluddin berani berhadapan dengan mereka yang tak suka dengan aktivitasnya. Memang, sering, pihak yang merasa terganggu dengan langkah-langkah pemberantasan aliran sesat yang dia lakukan lalu memberikan ancaman. Adapun model ancaman bisa lewat telepon atau datang langsung ke rumah. Atas itu semua, dia hadapi dengan tegar. 

Bagaimana jika yang mendapat ancaman itu rekan-rekan seperjuangannya di daerah? Ini nasihat Amin Djamaluddin: “Datangi mereka (untuk bicara dan berdebat jika perlu). Jangan sampai kita yang malah terlebih dahulu didatangi mereka.”

Keluarga Pejuang

Meski di awal-awal merasa kurang bisa memahami, istri Amin Djamaluddin kemudian sejalan dengan perjuangan sang suami. “Dia teguh, seperti tak kenal lelah. Saya siap hadapi semua resiko. Saya menjadi berani karena melihat suami berani,” tegas Mulyanah – sang istri.   

Keluarga Amin Djamaluddin bermental pejuang. Tentang ini, Hadi Nur Ramadhan punya catatan. Kata dia, Amin Djamaluddin mendapat amanah sembilan anak, satu di antaranya telah meninggal. Sisanya, insya Allah “Bisa melanjutkan perjuangan sang ayah,” kata pendiri Pusat Dokumentasi Tamaddun itu.

Apakah Amin Djamaluddin mengajari anak-anaknya secara langsung agar menjadi seperti dirinya? Ternyata, tidak. Sang ayah, “Mengajari kami lewat keteladanan. Juga, dengan cara mengajak kami silaturrahim ke tokoh-tokoh. Pun, mengajak kami menghadiri kegiatan-kegiatannya,” kenang Ustadz Rahmat Ramadhan, Lc. – salah seorang putra Amin Djamaluddin.

Tentang Aliran Sesat

Buku Capita Selecta Aliran Sesat di Indonesia adalah salah satu karya Amin Djamaluddin. Terbit kali pertama pada 2002. Lalu, kembali diterbitkan untuk kali ketiga pada 2020. Tujuannya, “Untuk memberikan informasi mengenai aliran-aliran besar yang berada di Indonesia, baik aliran sesat yang telah dilarang ataupun yang belum dilarang Pemerintah,” tulis Amin Djamaluddin di Kata Pengantar.

Apa pengertian sesat menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits? Di buku itu, Amin Djamaluddin menjelaskan, bahwa sesat “Mencakup semua jenis penyimpangan dari al-haq (kebenaran/jalan yang lurus), baik dalam level kecil maupun besar, disengaja maupun tidak disengaja”.

Adapun pengertian sesat dalam istilah para peneliti aliran sesat, lanjut Amin Djamaluddin, adalah jika sebuah keyakinan/paham/ajaran mengandung kesesatan. Terkait ini, minimal terdapat sepuluh penyimpangan dari dasar-dasar akidah Islam yang telah dirumuskan oleh Majelis Ulama Indonesia pada 6 November 2007 (2022: h.xv). 

Sepuluh kriteria tersebut sebagai berikut: 

  1. Mengingkari rukun iman dan rukun Islam. 
  2. Meyakini dan/atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah). 
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur’an.
  4. Mengingkari kebenaran Al-Qur’an.
  5. Melakukan penafsiran Al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah tafsir. 
  6. Mengingkari kedudukan Hadits Nabi Saw sebagai sumber ajaran Islam. 
  7. Melecehkan dan/atau merendahkan para Nabi dan Rasul. 
  8. Mengingkari Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir. 
  9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah. 
  10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan seorang Muslim hanya karena bukan kelompoknya. 

    Buku Capita Selecta Aliran Sesat di Indonesia dengan tebal total 364 halaman itu, adalah salah satu dari lebih tiga puluh judul yang diterbitkan Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI). Lembaga yang berbentuk yayasan itu didirikan Amin Djamaluddin pada 1985 dan sekaligus menjadi direkturnya sampai dia wafat. 

Sementara, sebagai pribadi, buku Capita Selekta Aliran Sesat di Indonesia, salah satu dari belasan karya Amin Djamaluddin. Semua itu buah dari penelitiannya. Berikut ini daftar karya Almarhum:

1).Bahaya Inkar Sunnah, LPPI, 1985. 2).Ahmadiyah dan Pembajakan Al-Qur`an, LPPI, 2000. 3).Catatan atas Jawaban Lengkap dr. O. Hashim terhadap Seminar Nasional Sehari tentang Syiah, LPPI, 2000. 4).Melacak Kesesatan dan Kedustaan Ajaran Tarikat Naqsyabandiyah Prof. DR. Kadirun Yahya, LPPI, 2001. 5).Capita Selekta Aliran Sempalan di Indonesia, LPPI, 2002. 6).Kesesatan NII, LPPI, 2003. 7).Kesesatan Lia Aminuddin dan Agama Salamullahnya, LPPI, 2004. 8).Kupas Tuntas Kesesatan dan Kebohongan LDII, LPPI, 2007. 9).Fakta dan Data Ahmadiyah Menodai Islam, LPPI, 2007. 10).Kebohongan Terbaru Ahmadiyah, LPPI, 2008. 11).Islam Liberal Menggugat Keaslian Al-Qur`an, LPPI, 2010. 12).Mewaspadai Gerakan Syiah di Indonesia, LPPI, 2011. 13).Kesesatan Aqidah dan Ibadah Syiah, LPPI, 2012. 14).Agar Kita Tidak Menuduh Syiah, LPPI, 2014. 15).Mewaspadai Gafatar; Gerakan Pemurtadan terhadap Umat Islam, LPPI, 2016. 16).Kesesatan Tarekat Naqsyabandi Haqqani, LPPI, 2016. 17).Kesesatan Shalawat Wahidiyah, LPPI 2018. 18).Capita Selekta Aliran Sesat di Indonesia, (edisi revisi), LPPI 2020.

Tak Lelah

Amin Djamaluddin tak pernah capai berjuang. Misalnya, dia bantu sahabat yang sedang berusaha “melawan hal-hal yang tak benar” terutama yang terkait aliran sesat di daerah-daerah. Caranya, antara lain dengan mendampingi mereka. Contohnya, seperti berikut ini. 

Pada 11/02/2019 Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Makassar-Said Abdul Shamad-menemui Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama. Tujuannya, menolak MoU antara UIN Alauddin Makassar dengan Ahmadiyah.

“Kami merasa MoU ini merupakan suatu hal yang tidak pantas. Terlebih, mayoritas dosen di sana berasal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI),” tutur Said. Hal ini karena berdasarkan fatwa MUI tahun 1980, MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah yang didirikan oleh Ghulam Mirza Ahmad sebagai ajaran sesat dan menyesatkan.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Ketua Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Amin Djamaluddin dan Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Ustadz Mohammad Siddik  (https://hidayatullah.com/berita/nasional/read/2019/02/12/159826/lppi-makassar-adukan-mou-ahmadi).

Amin Djamaluddin tak pernah capai berjuang. Jauh sebelumnya, dia turut memimpin pergerakan pelajar dan mahasiswa yang berdemonstrasi pada 1966 (baca https://matawartawan.com/lensa-wartawan/mengenang-pakar-peneliti-aliran-sesat-kh-amin-djamaluddin/4136/).

Jejak Dakwah

Tentu akan panjang sekali jika semua langkah dakwah Amin Djamaluddin ditulis. Tapi, semoga perjuangannya di bidang dakwah, bisa dirasakan lewat sekadar catatan berikut ini. Bahwa, Amin Djamaluddin adalah: 

Ketua Koordinator Pemberantasan Aliran Sesat Inkar Sunnah Indonesia, sejak tahun 1980.

Ketua Badan Penanggulangan Bahaya Kesesatan Ahmadiyah Indonesia, sejak 1980.

Pendiri / Direktur Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), sejak 1985. 

Pimpinan Pondok Pesantren Al Qalam (1986 – 2016).

Anggota Pengurus Pimpinan Pusat Persis (Persatuan Islam) Bandung, sejak tahun 2000. 

Anggota Komisi Penelitian dan Pengkajian Majelis Ulama Indonesia (MUI – Pusat) tahun 2010-2015.

Anggota Tim Ghazwul Fikri/Harakah Haddamah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, sejak 1995.

Anggota Tim PAKEM (Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) Kejaksaan Agung RI dalam rapat pembubaran Ahmadiyah di seluruh Indonesia, 2008.

Anggota Tim PAKEM (Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) Kejaksaan Agung RI dalam rapat memutuskan pelarangan Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) di seluruh Indonesia, 2016.

Saksi Ahli dan Narasumber

Berikut ini jejak kebaikan Amin Djamaluddin yang lain: 

Saksi Ahli kasus Lia Aminuddin di PN Jakarta Pusat pada 2006. 

Narasumber di Komisi VIII DPR-RI tentang Ahmadiyah pada 2008.

Saksi Ahli dari MUI Pusat di Mahkamah Konstitusi Indonesia tentang Judicial Review atas UU No.1/PNPS/1965, tahun 2009.

Saksi Ahli dari MUI Pusat di Mahkamah Konstitusi Indonesia atas gugatan kelompok Liberal terhadap UU No.1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama pada tahun 2010.

Saksi Ahli dari MUI Pusat atas permintaan Polda Jawa Barat (Cirebon) terhadap kasus Tindak Pidana Penodaan Agama yang dilakukan oleh Ahmad Tantowi bin H. Djanawi, di Unit V Kamneg Set Ops Direktorat Reserse Kriminal Polda Jabar pada Januari 2010.

Saksi Ahli dari pihak terkait Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia di Mahkamah Konstitusi Indonesia atas gugatan Ahmadiyah terhadap UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, pada 31 Januari 2018.

Layak Teladan

Amin Djamaluddin lahir di Bima – Nusa Tenggara Barat, 31 Desember 1950. Setelah enam tahun belajar di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Bima, dia lulus pada tahun 1970.

Dia pribadi yang teliti. Jika sedang membaca, dia akan tandai bagian-bagian yang penting. Dia tak akan membiarkan informasi yang dibacanya, terlewat meski itu sedikit. Pendek kata, dia  tekun dan cermat.

Langkah dakwah Amin Djamaluddin berhasil memotivasi banyak orang, terutama dalam usaha konkrit membela agama Allah dari ronrongan aliran sesat. Misal, banyak orang yang lalu tergerak untuk mengikuti jejak dakwah Almarhum. 

Mereka, yang tergerak untuk menekuni perkembangan pemikiran Islam terutama di aspek aliran sesat, berasal dari berbagai kalangan. Mereka itu ada yang pernah ikut pengajian atau kuliah Amin Djamaluddin. Ada dari kalangan aktivis dakwah, dan lain-lain. 

Semua Kader

Amin Djamaluddin “hanya” lulusan setingkat sekolah lanjutan atas. Tapi, sangat berbeda dengan yang lain, dia langka. Hal ini karena dia ahli di bidang pengkajian sekaligus pemberantasan aliran sesat.

Amin Djamaluddin “hanya” lulusan setingkat sekolah lanjutan atas. Tapi, dia cakap mendebat bahkan berani memperkarakan para tokoh aliran sesat. 

Amin Djamaluddin “hanya” lulusan setingkat sekolah lanjutan atas. Tapi, dia dipercaya sebagai pengurus Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (Dewan Da’wah) dan Persatuan Islam (Persis). Dia dipercaya pula sebagai pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI). 

    KH Amin Djamaluddin, ulama yang kritis itu, telah berpulang ke rahmatullah. Kecakapannya memang tak hanya meneliti, menulis, berceramah dan berdebat tentang aliran sesat. Tapi, almarhum juga mendirikan sekaligus mengelola sekolah dan pesantren.

Nyaris di sepanjang hidupnya, dia gunakan untuk dakwah. Adapun ladang dakwah yang ditekuninya punya resiko yang tak kecil. Tapi, dia terus maju, tak kenal lelah. Dia terus sibak semua jenis penghalang, semisal berbagai ancaman, pantang menyerah.

Atas performanya itu, sudah sepantasnya kita mematut-matut diri untuk menjadi kader dia. Kader dari seorang Mujahid Dakwah bernama KH Amin Djamaluddin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *