Tasyakur 500 Edisi Bina Da’wah

Bandung, dewandakwah.com – Bina Da’wah merupakan majalah bahasa sunda bermuatan Islam yang terbit sejak tahun 1980 yang diterbitkan oleh Dewan Da’wah Jawa Barat. Dengan berbagai kondisi yang dihadapi, biidznillah Bina Da’wah selama 42 tahun tetap “nanjeur” dan saat ini sudah menerbitkan 501 Edisi dan InsyaAllah di bulan Juli mendatang akan terbit edisi ke 502.

Dalam momentum pelantikan Dewan Da’wah Jawa Barat Masa Khidmat 2022-2027 yang diselenggarakan di Aula UPT Islamic Tutorial Center UPI Bandung pada Sabtu, 18 Juni 2022 lalu, Dewan Da’wah Jabar mengadakan Tasyakur. Kegiatan ini dilakukan untuk mensyukuri nikmat Allah, karena atas pertolonganNya Bina Da’wah bisa bertahan hingga 42 tahun dan sudah menerbitkan 501 edisi.

Pada acara Tasyakur tersebut hadir inohong (tokoh) Bina Da’wah, H.M. Daud Gunawan, SE. (Sebagai perintis dan yang menggagas terbitnya Bina Da’wah), Ki Udin (sebagai Wakil Ketua I Dewan Da’wah Jawa Barat B. Perpustakaan dan Penerbitan), KH. M. Roinul Balad (Ketua Dewan Da’wah Jawa Barat), Dr. Hadiyanto A. Rachim (Sebagai Akademisi), dan Dr. Adian Husaini (Ketua Dewan Da’wah Pusat).

HM. Daud Gunawan yang biasa disapa kakek Daud mengutarakan bahwa Bina Da’wah berawal dari program kerja yang disusun olehnya dan kemudian diajukan kepada Dewan Da’wah Pusat pada momentum Rapat Kerja Nasional di Jakarta pada tahun 1980, “Waktu itu saya ajukan program penerbitan majalah Bina Da’wah dengan tujuan untuk melawan gerakan-gerakan yang memusuhi islam di Jawa Barat. Namun saat saya ajukan Buya M. Natsir berkata ‘Coba saudara pikirkan lagi’.”

“Mendengar komentar itu saya bingung lantas berpikir. Setelah berpikir panjang lalu saya mendapatkan petunjuk Allah, mungkin karena majalah ini berbahasa Indonesia sedangkan Jawa Barat adalah Sunda, maka saya ubah konsep yang asalnya bahasa Indonesia kemudian saya ganti dengan menggunakan bahasa Sunda, dan ternyata betul, saat saya ajukan kembali langsung diacc oleh Buya M. Natsir dan diberikan modal untuk mencetaknya,” terangnya saat bercerita di acara tersebut.

Kakek Daud memberikan penilaian terhadap sikap Buya M. Natsir waktu itu “itulah tokoh yang sangat luar biasa, mendidik kita agar kita mampu berpikir dalam menyelesaikan masalah, kalau ia mau singkat bisa saja ia langsung mengatakan ubah bahasanya dengan bahasa sunda. Namun tidak seperti itu, saya liat Buya M. Natsir ingin mengajarkan kepada kita untuk berpikir” tegasnya.

Selanjutnya Ki Udin selaku orang yang saat ini meneruskan perjuangan Kakek Daud dalam menerbitkan Bina Da’wah menceritakan pahit manisnya di dalam mempertahankan Bina Da’wah ini agar terus bisa terbit dan eksis serta bermanfaat untuk umat.

Ki Udin mengutarakan bahwa Bina Da’wah pernah eksis dengan menerbitkan 10.000 eksemplar per edisi, namun di zaman reformasi Bina Da’wah merosot hingga 3000 eksemplar, dan kemarin saat covid juga merosot lagi hingga 1500 eksemplar. Namun begitu Bina Da’wah alhamdulillah tetap bertahan dan saat ini Bina Da’wah mulai bangkit kembali.

Disamping itu, Dr. Hadiyanto sangat mengapresiasi sekali terhadap majalah Bina Da’wah dengan bahasa sunda ini, karena walaupun dengan berbagai problematikanya Bina Da’wah tetap bertahan.

Dr. Hadiyanto menyatakan bahwa “tokoh kita sangat inovatif yaitu membuat majalah dengan Bahasa Sunda, untuk itu PR ya adalah mempertahankan Bina Da’wah dengan mengikuti perkembangan zaman atau bahkan membuat secara digital,” pungkasnya.

Dalam momentum itu Ust. Roin selaku Ketua Dewan Da’wah Jawa Barat mengajak kepada semua tamu yang hadir untuk mendukung dan berlangganan majalah Bina Da’wah.

Terakhir, dalam kesempatan ini Dr. Adian Husaini selaku Ketua Dewan Da’wah Pusat memberikan taujihnya serta mengapresiasi atas prestasi Bina Da’wah, “Dengan bertahan sampai 42 tahun merupakan pencapaian yang hebat dan luar biasa,” tegasnya.

Reporter: Mustopa

Redaktur: Daulat

Leave a Reply

Your email address will not be published.