Seminar Islamofobia Bersama Gubernur Sumatera Utara

Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Pada hari Senin (13/6/2022) saya menghadiri acara Seminar tentang Islamofobia di Medan, Sumatera Utara. Tempatnya di Aula T. Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara. Yang cukup istimewa dari seminar ini adalah kesediaan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi untuk menjadi pembicara kunci (keynote speaker). Pembicara lain adalah seorang akademisi dari Universitas Sumatera Utara bernama Warjio Ph.D. 

Dalam papaparannya, Gubernur Edy menjelaskan fenomena global Islamofobia. Ia mengajak umat Islam siap menjawab tantangan itu, tidak menjadi lemah, dan takut terhadap berbagai serangan terhadap Islam. Tetapi, ia pun menekankan agar umat Islam mengedepankan akhlak mulia untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat kepada seluruh alam. 

Masalah Islamofobia terus menjadi perbincangan di dunia internasional, menyusul keputusan Majelis Umum PBB yang menetapkan tanggal 15 Maret sebagai “Hari Internasional untuk Melawan Islamofobia” (The International Day to Combat Islamofobia). 

Dalam publikasinya disebutkan, bahwa: “General Assembly calls for strengthened international efforts to foster global dialogue on promotion of culture of tolerance & peace, based on respect for human rights & for diversity of religion &beliefs.” 

Islamofobia adalah prasangka, kebencian, serangan dan diskriminasi terhadap Islam. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus-kasus Islamofobia itu sendiri semakin meningkat. Umat Islam di berbagai negara Barat, mendapat diskriminasi dan serangan baik secara verbal ataupun fisik. Tetapi, ironisnya, kasus-kasus Islamofobia juga terjadi di berbagai negeri yang mayoritasnya muslim. 

Dalam kesempatan tersebut, saya menyampaikan, bahwa kasus-kasus Islamofobia sudah terjadi sejak awal kemunculan Islam. Sebab, kehadiran Islam memang dianggap sebagai ancaman berbagai pihak. Tahun 636 M – hanya lima tahun setelah Rasulullah saw wafat – umat Islam sudah menaklukkan Romawi dan membebaskan kota Jerusalem. Sejak itu, grafik peradaban Islam terus menanjak. Tahun 711 M, umat Islam sudah memasuki Andalusia dan memimpin kawasan ini selama hampir 800 tahun. 

Bagaimana pun, kasus-kasus Islamofobia akan terus bermunculan. Sebab, akan selalu ada yang menganggap kehadiran Islam sebagai ancaman. Oleh karena itu, umat Islam pun perlu terus dengan sabar menjelaskan hakikat ajaran Islam yang sebenarnya. Di sinilah perlu dilakukan dakwah Islam dengan cara-cara yang cerdas dan bijak. Salah satunya adalah dengan menjelaskan fakta-fakta sejarah secara adil. 

Sepanjang perjalanan sejarahnya, Islam senantiasa menghadapi tantangan, hingga saat ini. Umat Islam tidak boleh lelah untuk terus berdakwah dengan sabar. Sejarah membuktikan Islam telah berhasil mewujudkan tatanan kehidupan yang adil dan menjadi rahmat bagi banyak umat manusia, bukan hanya untuk yang muslim.

Banyak ilmuwan Barat mengakui keagungan peradaban Islam dan jasa besar umat Islam untuk masyarakat Barat. Karena itulah, sejatinya, masyarakat Barat memiliki utang besar terhadap dunia Islam. Itu fakta sejarah. 

Dalam bukunya,  What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization” (London: Watkins Publishing, 2006), Tim Wallace Murphy menulis:  Even the brief study of history revealed in these pages demonstrates that European culture owes an immense and immeasurable debt to the world of Islam… We in the West owe a debt to the Muslim world that can be never fully repaid.”

Jadi, menurut sejarawan Barat ini, sampai kapan pun, masyarakat Barat tidak akan dapat membayar utangnya kepada umat Islam. Tetapi, sayangnya, di negara-negara Barat juga muncul ilmuwan-ilmuwan yang menggambarkan Islam dan umat Islam sebagai ancaman bagi masyarakat Barat. 

Salah satunya adalah Prof. Samuel Huntington. Dalam bukunya, The Clash of Civilizations, Huntington mengkhawatirkan pertumbuhan penduduk muslim yang akan mengancam stabilitas internasional. Ia menulis: “Meanwhile Muslim population growth will be a destabilizing force for both Muslim societies and their neighbors. The large number of young people with secondary educations will continue to power Islamic Resurgence and promote Muslim militancy, militarism, and immigration. As a result, the early years of the twenty-first century are likely to see an ongoing resurgence of non-Western power and culture and the clash of the peoples of non-Western civilizations with the West and with each other.”

Dalam konteks Islamofobia di Indonesia, dalam kesempatan itu, saya mengajak agar umat Islam tidak menghabiskan seluruh energi untuk melawan Islamofobia. Tetapi, umat Islam juga harus memiliki peta jalan kebangkitan menuju Indonesia 2045. Jalan kebangkitan itu adalah dengan melahirkan satu generasi unggul melalui pendidikan yang benar dan tepat. Dalam kaitan ini, perlu dilahirkan guru-guru yang hebat dan sistem serta kurikulum pendidikan yang unggul. 

Indonesia adalah negeri yang diamanahkan oleh Allah dan diwariskan oleh para ulama untuk dijaga dan terus diupayakan menjadi negara yang hebat. Untuk itu, umat Islam perlu terus bersabar dan berjuang mengajak berbagai pihak untuk bekerjasama membangun negeri ini agar menjadi negeri yang adil dan makmur dalam naungan ridha Tuhan Yang Maha Esa. Perjuangan ini tidaklah ringan dan mudah. Karena itu perlu sabar, sabar, dan sabar! (QS 3:200). 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *