Menyusuri Jalan Dakwah di Pulau Bali

Oleh: Ustaz Ujang Habibi (Ketua Bidang Pendidikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Selasa, 26 April 2022, pukul 15.15 WIB saya meluncur dari rumah mertua di Desa Ngadireso, Kec. Poncokusumo, Kab. Malang menuju ke Terminal Bus Arjosari Malang.

Dengan menunpang Bus Purnayasa jurusan Denpasar, tepat waktu pukul 17.00 WIB saya mulai melaju dari terminal. Perjalanan yg cukup panjang selama 12 jam melewati kota Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi serta menyeberang laut dari Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk dengan kapal ferry, dan akhirnya berakhir di Kota Denpasar tepat pada waktu Subuh pukul 05.02 WITA.

Dari pool Bus Purnayasa, saya dijemput oleh ustaz Yusuf dan langsung menuju Masjid Muhammad di Jalan Imam bonjol.

Selesai subuh kami berempat berbincang tentang rencana agenda saya di Bali dan bincang ringan tentang kondisi dakwah secara umum di sini bersama dengan ustaz Hasan Basri (Ketua Dewan Da’wah Bali) bersama ustaz Agus Salim dan ustaz Yusuf.

Siang hari saya menengok kampus ADI yang berlokasi di tempat yang sama dengan kantor Dewan Da’wah Bali dan kantor Laznasnya, di sebuah rumah yg cukup besar tapi terkesan sangat sederhana di jalan protokol inilah pengkaderan da’i selama ini dilakukan.

Sore harinya, di kediaman ustaz Hasan Basri, para pengurus Dewan Da’wah Bali dan para pengurus ADI serta Laznas (tidak kurang dari 15 org) dan dihadiri langsung oleh tuan rumah sekaligus Ketua Dewan Da’wah Bali dan juga Ketua Majelis Syura Dr. Fauzi Basulthana, saya diberikan kesempatan untuk berbicara dan sharing tentang perkembangan dan update informasi Dewan Da’wah Pusat.  Secara khusus saya bicara tentang bidang pendidikan dan secara umum tentang program dan target-target nasional ke depannya.

Alhamdulillah para pengurus yang hadir mereka cukup antusias untuk sharing dan diskusi tentang hal yang saya sampaikan termasuk mereka juga melaporkan sekaligus meminta saran/arahan tentang perkembangan ADI Bali pada khususnya dan tentang program-program dan langkah-langkah Dewan Da’wah Bali pada umumnya.

Hal yang paling krusial dari yang mereka sampaikan adalah bahwa sampai saat ini Dewan Da’wah Bali belum memiliki tempat milik sendiri baik berupa tanah maupun bangunan.

Tempat dan bangunan yg saat ini dipakai untuk kantor Dewan Da’wah Bali, kantor Laznas Dewan Da’wah Bali, dan kampus ADI secara bersama hanya pinjaman dari salah seorang donatur dan akan segera berakhir pada tahun 2023 nanti.

Sehingga cukup mendesak bagi Dewan Da’wah Bali untuk memiliki alternatif lain, sedangkan di waktu yg sama dana untuk menyewa juga masih sangat terbatas. Semoga kelak, Dewan Da’wah dapat memiliki markas terpadu di atas tanah wakaf, aamiin. Acara ini diakhiri dengan ifthar jama’i dengan menu yang sangat istimewa: ta’jil lengkap dan menu makan berupa ikabakar, pindang kakap dan cumi pedas yang disajikan oleh ust Hasan dan keluarga, barokallahu fi rizqihim.

Redaktur: Daulat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *