Ekspedisi Dakwah Manggarai NTT, Memotret Perkembangan Risalah di Tanah Seribu Biara

Hari ke 1 (Kamis, 21 April 2022)

Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir ramadhan tahun 1443 H ini kembali mengirimkan Tim Ekspedisi Da’wah dalam rangkaian program Kafilah Da’wah. Kali ini ekspedisi diarahkan ke wilayah Manggarai NTT. Tim ekspedisi terdiri atas saya, Dwi Budiman, Andi Marwan (Biro Pengabdian Masyarakat) dan Faris Rasyid (Dokumentasi). Berangkat Kamis dini hari, 21 April 2022 dari bandara Soekarno Hatta. Perjalanan udara selama 3 jam, sampai pukul 06.00 WITA di bandara El Tari Kupang. Udara Kupang cerah.

Kami dijemput kawan-kawan Dewan Da’wah NTT, ada Akh Lalu Abdul Mukti, Akh Umar Arasula dan Akh Rusdiadi Masang. Mereka semua alumni STID Mohammad Natsir. Plus Mas Angga, Direktur Laznas Dewan Da’wah NTT. Kami dibawa ke markas Dewan Da’wah NTT di Jalan Lapangan Tembak, Nunbaun Sabu Kecamatan Alak, Kota Kupang. Di markas ini berkantor Dewan Da’wah, Laznas dan ADI NTT. Kami dipersilahkan untuk mandi dan istirahat sejenak. Pukul 10.00 WITA kami kemudian diantar ke pelabuhan Bolok Kupang untuk melanjutkan perjalanan menggunakan Kapal Ferry. Rusdiadi Masang, alumni STID Mohammad Natsir yang sedang bertugas sebagai Musyrif ADI Kupang, ditugaskan ketua Dewan Da’wah NTT untuk membersamai kami. Berarti tim kami sekarang berjumlah empat orang.

Tiba di pelabuhan Bolok matahari bersinar sangat terik. Penumpang cukup ramai, mungkin gelombang mudik sudah mulai. Pukul 11.00 WITA kami sudah berada di atas Kapal KMP Lakaan. Waktu berangkat hampir tiba. Namun ternyata ada kerusakan mesin, keberangkatan tertunda. Kami tetap menunggu di atas kapal hingga dua jam lamanya. Pukul 13.00 WITA kapal pun bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Bolok Kupang. Mulai berlayar menuju pelabuhan Aimere Ngada, Manggarai Timur.

Selama perjalanan kondisi laut cukup tenang. Hanya malam hari goyangan agak kencang. Perjalanan ini kami tempuh selama 16 jam. Karena itu buka puasa dan sahur kami lakukan di atas kapal. Untuk buka kami dibekali nasi dan ayam goreng oleh Mas Angga. Sementara untuk sahur kami makan mie instan dan kurma. Relatif aman, tidak dikhawatirkan kehalalannya.

Hari ke 2 (Jumat, 22 April 2022)
Pukul 07.00 pagi KMP Lakaan bersandar di pelabuhan Aimere Ngada. Kami segera turun, karena Kapal tidak lama bersandar, akan melanjutkan perjalanan ke Sumba. Di pintu pelabuhan Farhan Al Baz, mahasiswa STID Mohammad Natsir yang bertugas di Desa Biting Kecamatan Elar Manggarai Timur sudah menunggu.

Ia ditemani Pak Abdul Razak, kepala KUA Aimere. “Semalam saya nginap di kantor Pak KUA, di ruang akad nikah,” ujar Farhan sambil tersenyum. “Kita istirahat sebentar di kantor KUA Ustadz, sambil menunggu mobil yang akan mengantar kita ganti ban,” Farhan menjelaskan perjalanan kami selanjutnya.

Kamipun istirahat di kantor KUA sambil ngobrol santai dengan Pak Abdul Razak. “Muslim di Aimere hanya 300 orang dari total 10 ribu penduduk,” Pak Razak menjelaskan. “Walaupun di papan tertera angka 400 tapi sebenarnya hanya 300 karena sudah banyak yang merantau ke daerah lain,” ia melanjutkan penjelasannya.

Tak lama mobil yang akan mengantar datang, membawa kabar kurang baik. Ban mobil yang pecah belum bisa diganti karena tidak ada bengkel ban mobil di sekitar Aimere. Akhirnya Pak Razak menawarkan diri untuk mengantar kami sampai Borong, sebab disana ada bengkel besar penjual ban mobil. Sementara mobil yang akan mengantar kami, berjalan dengan ban kempes. “Tak lama, paling satu jam,” ujar Pak Razak.

Alhamdulillah mobil pengantar kuat berjalan sampai Borong. Kamipun berganti mobil. Sementara Pak Razak kembali ke Aiemere, kami melanjutkan perjalanan ke Elar Manggarai Timur. “Perkiraan jam 1 siang sampai, semoga tidak hujan,” kata Ama, sopir mobil yang mengantar kami. “Kalau hujan jalan licin, mobil bisa tidak naik,” ujar pria asal Sumba ini. Artinya jika normal perjalanan ini akan kami tempuh selama 5 jam.

Ternyata kondisi jalan cukup berat. Banyak kelokan tajam dengan kontur naik turun. Rusdi sampai mabuk. Yang lainnya juga pusing. Setelah 5 jam perjalanan, kami baru memasuki jalan berbatu dan bertanah merah. Berarti perkiraan meleset. Karena perjalanan masih menyisakan dua jam lagi. Satu jam menjelang sampai ke lokasi hujan turun sangat deras, perjalanan agak terhambat, beberapa kali ban mobil slip karena jalan berbatu dan licin.

Alhamdulillah pukul 15.30 WITA kami sampai di tujuan, Desa Biting Kecamatan Elar Manggarai Timur. Total perjalanan 8 jam. Hujan baru saja reda. Udara segar. Badan yang sudah lemas dan pusing sedikt terobati setelah menghirup udara segar khas dataran tinggi. Kami kemudian diarahkan untuk istirahat di rumah Ustadz Ibrahim, kontak Dewan Da’wah NTT di tempat ini. Setelah rehat sejenak, kami pergi ke Musholla untuk sholat Dzuhur dan Ashar. Kami berkenalan dengan Pak Mursalin, imam Mushola Babus Salam ini.

Di Desa ini hanya ada 17 Kepala Keluarga, 30% dari total jumlah penduduk. Namun alhamdulilah Kepala Desanya muslim. Karena itu, ketika malam harinya kami melaksanakan shalat isya dan tarawih berjamaah di mushola Babus Salam, jamaah yang hadir hanya 4 shaf; laki-laki dua shaf ibu-ibu dua shaf. Itupun tidak penuh. Selepas tarawih kami memperkenalkan diri kepada jamaah sekaligus menjelaskan mengenai Kampus STID Mohammad Natsir dan program Kafilah Da’wah.

Setelah itu kami kembali ke rumah Pak Kepala Desa, berjalan kaki di tengah Kegelapan. Listrik memang belum masuk ke Desa ini. Penerangan didapat dari mesin diesel yang dinyalakan dari pukul 06.00 sore sampai pukul 10.00 malam. Sesampainya di rumah Pak Kepala Desa, kami berbincang sambil ditemani kopi panas khas Flores. Pak Kepala Desa banyak menjelaskan tentang kondisi masyarakat muslim di Desa ini. “Di sini kita minoritas, tapi kehidupan kami aman-aman saja. Toleransi berjalan sangat baik. Malah jika idul Adha, mereka kami undang untuk makan bersama. Tapi tidak sebaliknya, jika mereka sedang merayakan hari besar mereka, kami tidak pernah mereka undang makan, karena mereka faham kita tidak boleh makan makanan mereka, ” Pak Kepala Desa menjelaskan panjang lebar. Jelang pukul 12.00 malam kami pun istirahat.

Hari ke 3 (Sabtu, 23 April 2022)
Pagi hari kami sudah bersiap, akan berkunjung ke Dusun Lebong, salah satu Dusun binaan Farhan Al Baz. Di sana ada satu kampung muslim yang hanya berjumlah 6 KK. Kami berjalan kaki, melewati beberapa kampung dan banyak sekali hamparan kebun dan hutan. Sepanjang jalan, setiap bertemu orang, Farhan menyapa mereka; anak-anak, pemuda, orangtua. Semua akrab. Walau baru 20 hari berda’wah di sini, sepertinya Farhan sudah bisa berbaur dengan masyarakat.

Sebenarnya Farhan ditugaskan berdua dengan Rizki. Namun ada permintaan dari Dusun Nu yang letaknya di atas gunung, sehingga Rizki ditugaskan di sana. Jadilah Farhan tugas sendirian dengan cakupan 3 mushola dan satu masjid. Rizki sendiri awalnya akan datang bertemu kami. Tapi rupanya terkendala masalah transportasi. “Di sana dingin sekali Ustadz, mau wudhu saja kadang tidak kuat kita,” ujar Farhan menjelaskan kondisi desa tempat Rizki bertugas.

Setelah hampir dua jam, kami sampai di kampung Lebong. Disambut Pak Imam musholla yang sedang menyiapkan dudukan untuk panel Surya. Listrik memang belum masuk ke Elar. Penerangan hanya berasal dari mesin diesel yang biasa dihidupkan sejak Maghrib sampai sekitar jam 10.00 malam . Beruntung ramadhan tahun ini ada bantuan panel Surya untuk masjid dan musholla. Sehingga sepanjang malam masjid bisa terang. Bangunan rumah dan Mushola di kampung ini terbuat dari kayu dengan atap dari Rumbia. Itu kampung paling ujung. Setelahnya hanya ada jurang dan hutan. Jelang Dzuhur kami kembali ke rumah Ustadz Ibrahim.

Sore hari kami mengadakan acara Buka Puasa bersama masyarakat di masjid besar Desa Biting, Masjid Nurul Hidayah Dusun Lengkowelu. Ramai yang hadir, dari anak-anak hingga orangtua. Semua bergembira, alhamdulilah…

Waktu Maghrib sudah masuk, kamipun berbuka tanpa menunggu adzan Maghrib berkumandang. “Di sini biasa begini Ustadz, kalau sudah masuk waktu Maghrib makan dulu baru nanti adzan Maghrib,” ujar Pak Kades sambil tersenyum.

Selepas tarawih acara dilanjutkan dengan Tabligh Akbar. Sebelum tabligh Akbar dimulai saya dan rombongan dari STID Mohammad Natsir dihadiahi selendang khas Elar. “Ini kebiasaan kami di sini Ustadz, sebagai simbol penghormatan kami kepada tamu,” ujar Ustadz Ibrahim. Setelah itu kami diminta memperkenalkan diri, Ustadz Andi Marwan mewakili sekaligus menjelaskan tentang STID Mohammad Natsir dan program Kafilah Da’wah.

Dalam tausyiah, saya menyampaikan materi sederhana tentang pentingnya iman, amal Sholeh dan menegakkan da’wah dalam kehidupan seorang Muslim. Setelah acara tausyiah, kegiatan ditutup dengan makan bersama di halaman masjid. Dibawah naungan lampu jalan berpanel Surya, salah satu proyek yang bersumber dari Dana Desa. Pukul 10.00 malam kami pulang ke rumah Ustadz Ibrahim dan Pak Kades yang bersebelahan, tempat kami menginap.

Sesampainya di rumah Ustadz Ibrahim kami berembug untuk persiapan perjalanan besok ke lokasi ke dua, Dusun Ronting Desa Lambelada Utara. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya disepakati kami akan menggunakan motor. Lebih cepat dan hemat.

Hari ke 4 (Ahad, 24 April 2022)
Pagi-pagi kami sudah bersiap. Empat motor juga sudah berjejer di depan rumah Ustadz Ibrahim, lengkap dengan rider-nya. Setelah berpamitan kepada tuan rumah, pukul 08.15 kami berangkat menuju Dusun Ronting.

Jalanan berbatu, berkelok dan naik-turun. Bahkan di satu tanjakan kami harus turun karena terjalnya. Awalnya udara segar karena masih di wilayah pegunungan. Namun setelah satu jam perjalanan udara mulai terasa panas. Kami pun berhenti untuk istirahat. Begitu seterusnya , setiap satu jam kami istirahat. Panas semakin terik, kaki semakin pegal, tenggorokan semakin kering. Kami sedikit terhibur oleh pemandangan indah di beberapa titik. Puncaknya ketika kami melewati Padang rumput yang cukup luas di atas sebuah bukit. Begitu sampai di puncak bukit, terhampar pemandangan yang sangat indah di bawah sana; hutan hijau disambung lautan biru, Maa Syaa Allah….

Setelah empat jam perjalanan, kami keluar hutan, dilanjutkan dengan jalan beraspal yang cukup bagus. Mental kami diuji, karena para raider mengemudikan motor dengan kecepatan maksimal. Satu jam penuh kami mengaspal sampai akhirnya motor berbelok ke kanan, menuju ke arah pantai. Di bibir pantai kemudian berbelok ke kiri, nampaklah bangunan masjid yang indah, bagian bawah warna putih, bagian atas warna merah, terletak persis di pinggir pantai. Inilah masjid Istiqomah, tempat mahasiswa STID Mohammad Natsir tinggal selama melaksanakan program Kafilah Da’wah di Dusun Ronting. Muhammad Zulkifli Ismail dan Alfiansyah Putra Batee yang bertugas di sini.

Kami disambut beberapa orang jama’ah dengan sangat ramah. Setelah ngobrol sebentar kami minta izin untuk menunaikan shalat Dzuhur dan ashar. Usai sholat, diantar Pak Nur, kami dipersilahkan menuju rumah keluarga Pak Umar untuk istirahat. Pak Nur sendiri adalah putra ke enam Pak Umar. Rumah Pak Umar adalah sebuah rumah panggung yang terletak sekitar 100 meter dari masjid, menghadap lautan lepas dengan halaman berpasir. Setelah merapihkan barang bawaan kami langsung tertidur pulas. Lelah sekali.

Masyarakat Dusun Ronting banyak yang bercerita tentang Afif dan Fuad, dua orang mahasiswa STID Mohammad Natsir yang melaksanakan program Kafilah Da’wah di tempat mereka tahun sebelumnya. Mereka sangat terkesan, sehingga penerimaan kepada peserta Kafilah Da’wah tahun ini sangat terbuka. Berkali-kali mereka mengingatkan agar di tahun-tahun berikutnya kembali dikirim mahasiwa Kafilah Da’wah.

Malam hari selepas tarawih, kami berdiskusi dengan Pak Nur dan beberapa jama’ah mengenai teknis kami berangkat ke Desa Warloka Labuan Bajo, lokasi ke 3 yang akan kami kunjungi dua hari lagi. Maka diputuskan kami akan menggunakan perahu karena lebih cepat dibandingkan jika menggunakan mobil. Pak Nur dan Ustadz Andi segera mencari perahu yang siap mengantar. Alhamdulillah ada jamaah yang bersedia.

Hari ke 5 (Senin, 25 April 2022)
Setelah shalat subuh saya bertemu Zul dan Alfian, diskusi pelaksanaan program da’wah yang sudah mereka jalankan. Sejauh ini semuanya sangat baik. Masyarakat menerima dengan tangan terbuka. Alhamdulillah. Saya sampaikan bahwa penerimaan masyarakat yang baik ini merupakan nikmat sekaligus cobaan. Jangan sampai melenakan.

Sore bada Ashar dilaksanakan acara Tabligh Akbar dan Buka Bersama. Sebelum tabligh Akbar Ustadz Andi kembali mewakili kami untuk memperkenalkan diri. Saya menyampaikan materi tentang fase perjalanan manusia dan tugas di dunia. Dilanjutkan dengan buka bersama di pinggir pantai. Diiringi lantunan adzan dan deburan ombak. Selepas tarawih kembali diminta memberikan tausyiah. Kali ini saya menyampaikan materi tentang cara meningkatkan iman.

Hari ke 6 (Selasa, 26 April 2022)
Setelah sahur kami langsung bersiap, merapihkan barang. Selepas shalat subuh kami langsung mengambil barang, berpamitan dan berjalan menuju kapal. Di tepi pantai ternyata sudah banyak masyarakat yang menunggu. Mereka sengaja datang untuk melepas kepergian kami. Hanya dua hari tapi perpisahan ini terasa berat. Orang-orang baik dan ramah di dusun ini membuat hati kami tertambat. Setelah besalaman dan foto bersama kami menaiki perahu. Zul dan Alfian ikut mengantar. Diiringi lambaian tangan masyarakat, perahu mulai melaju menuju Warloka Labuan Bajo.

Sepanjang perjalanan laut tenang. Hanya beberapa kali saja terasa ombak agak besar. Setelah lima jam mengarungi lautan akhirnya kami sampai di Pelabuhan pasar Barter Warloka. Abdul Malik dan Khairul Anwar, mahasiswa STID Mohammad Natsir yang betugas di Desa ini, menyambut di dermaga kayu. Kami langsung dibawa ke rumah Pak Suparman, tempat mereka tinggal. Setelah shalat Dzuhur kami langsung istirahat, lelah…

Sore hari kami menuju Masjid Baitur Rahiim untuk menghadiri acara Lomba Anak Sholeh. Ternyata acara lomba cukup meriah, ada panggung di samping masjid. Acara pembukaan dihadiri sekretaris camat dan sekretaris desa. Saya diminta memberikan tausyiah jelang berbuka. Materi yang saya sampaikan tentang pentingnya menyiapkan generasi beriman dan bertakwa.

Masyarakat Warloka mayoritas muslim. Namun pendidikan agama untuk anak sangat kurang. Sehingga kedatangan mahasiswa STID Mohammad Natsir sangat mereka syukuri, terutama untuk mendidik anak-anak mereka. Tahun lalu Warloka juga kedatangan dua orang mahasiswa STID Mohammad Natsir, Muammar Qaddafi dan Jundullah. Keduanya memberikan kesan mendalam bagi masyarakat. Banyak diantara mereka yang menyampaikan terimakasih karena tahun lalu dan tahun ini mereka kedatangan para da’i tersebut. “Tolong setiap tahun dikirim ya Ustadz,” pinta Pak Imam masjid Baitur Rahiim dalam sambutannya. Adzan Maghrib berkumandang, lomba dihentikan sementara. Kami pun berbuka bersama. Setelah tarawih lomba dilanjutkan sampai pukul 10.00 malam. Suasana sangat meriah, anak-anak peserta lomba bersiap di dalam masjid bersama gurunya masing-masing.mereka dipanggil satu persatu untuk tampil. Ada lomba adzan, ada juga lomba ceramah. Akh Rusdiadi mewakili kami menjadi salah seorang juri.

Hari ke 7 (Rabu, 27 April 2022)
Hari ini kami pulang ke Jakarta. Pagi kami bersiap, pamitan kepada masyarakat dan kemudian menuju bandara Komodo menggunakan mobil ranger yang sudah disiapkan. Kami diantar Malik, Anwar dan Pak Suparman. Ternyata jalan akses ke Warloka sangat menantang. Batu besar dan tanah merah tak beraturan sepanjang jalan. Mobil terlempar naik turun karena jalanan bergelombang. Sepanjang perjalanan, Bang Har, sopir kami, curhat tentang kondisi desanya. Terutama tentang akses jalan dan listrik yang tak kunjung hadir di desa mereka. “Padahal tidak jauh dari desa kami sedang dibangun Kawasan Ekonomi Khusus Ustadz. Para pejabat juga sudah sering berjanji manis, tapi ya beginilah kondisi desa kami,” ujarnya. “Entah kapan kami benar-benar merasakan kemerdekaan,” ujarnya sendu.

Inilah Indonesia, negeri yang sudah 75 tahun lebih merdeka. Namun masih banyak daerah tertinggal seperti Warloka, Roting dan Elar. Selain tertinggal dalam pembangunan fisik, juga tertinggal dalam pembangunan pemahaman keislaman. Diperlukan banyak kader-kader da’i untuk menyapa dan memberdayakan masyarakat di daerah seperti ini. Semoga STID Mohammad Natsir terus diberikan kekuatan dan keistiqomahan oleh Allah Ta’ala untuk mengkader para da’i guna selamatkan dan bangun Indonesia dengan da’wah.

Dwi Budiman Assiroji
Bandara Komodo, 25 Ramadhan 1443 H. / 27 April 2022 M.

Leave a Reply

Your email address will not be published.