Menyertai Dakwah “Sang Lurah Laut”

Oleh: Dr. Ahmad Misbahul Anam

(Ketua Bidang Penempatan dan Pembinaan Dai)

Group WA Rombongan ke Enggano tertulis pesan dengan huruf tebal dari ustadz Ali ketua provinsi, “Assalamu’alaikum wr wb. Menegaskan maklumat pak ketua Haflah DD di Enggano siang kemarin, bahwa diharapkan sangat kehadiran kita pada acara pelepasan safari da’wah ke Enggano siang nanti oleh gubernur Bkl pkl.12.00 (shalat zuhur berjamaah) di masjid Al Kautsar Jl Kapuas 3 Padang Harapan. Dan karena kendala cuaca (info dari ASDP Pulau Baai) kita berangkat ke Enggano insya Allah hari Rabu, 16/03/2022. Demikian, harap maklum dan tksh”.

La haula wala quwwata illa billah, “Pikiranku melayang, wah jangan-jangan kepulangan juga mundur ni!”. Pantang menawar karena memang begitulah adatnya, saat program dakwah harus menyeberang laut, apalagi ini samudera. Pasti suka tak menentu, segala kondisi bisa berubah tiba-tiba, karena terlalu berat melawan ombak laut lepas, juga badai yang bisa menggulung apa saja yang ditemuinya. Syukur saya memang sudah menyiapkan itu, untuk tidak membeli tiket penerbangan. Saat abang Dasril menawarkan tiket PP, saya hanya bilang, “Tiket pulang nanti saja, kalo kaki saya sudah masuk kapal yang kembali ke Bengkulu dari Enggano”. 

Ohya! Saya pernah memiliki pengalaman yang kurang lebih sama. Saat tugas ke Sikakap, kemudian ke pulau Tubeket, salah satu kepulauan Mentawai yang juga di kawasan samudera Pasifik yang ganas, harus menunggu kapal balik ke pelabuhan Siti Nurbaya yang tak kunjung datang. Terpaksa menunggu tak tentu, tapi untung hari kedua ada mampir kapal barang pengangkut kayu dan barang yang mampir, tapi rutenya ke Bengkulu. Tak pikir panjang, naiklah ke kapal tersebut, walau bersama barang yang sumpek, tingal tidur yang memang menjadi pilihan paling rasional saat situasi capek dan lelah menguras tenaga. 

Malam ini, gelombang laut mengalami gunjangan yang kuat, sempat membuat barisan shalat jama’ qashar Maghrib Isya’ berantakan di kapal Roro Pulo Telo. Ada yang maju mundur, kanan kiri, sebagiannya ndak kuat bangun. Melanjutkan shalat dalam kondisi duduk, sementara keringat bercucuran karena ruang shalat seperti bungker. “Panas”, gumam jamaah shalat setelah selesai, jadi terbayang bagaimana para pejuang dahulu berjuang saat revolusi dan tetap melaksanakan shalat lima waktunya.

Keberangkatan ke Enggano memang telah lama disiapkan, untuk mengingatkan bagaimana dakwah ini dirintis. Ustadz Iskandar sebagai ketua rombongan sampai membuat pengumuman, “Ass, diberitahukan pada seluruh peserta Haflah tujuan Enggano : 1. Kapal Fery lepas jangkar pukul 17.00, 2. Penumpang sudah berada di kapal paling lambat pukul 16.00, 3. Bagi peserta yg hendak langsung ke Dermaga Penyeberangan di SILAHKAN paling lambat pukul 15.30, 4. Bagi yg mau bersama pengurus, Silahkan KUMPUL di Masjid Al Kautsar pukul 14.00. ( jam 2 siang ), 5. Pakaian baju kaos hijau Dewan Da’wah, bagi yg belum ada menyesuaikan, 6. Bagi yg rawat jalan atau obat rutin jangan lupa bawa obat, 7. Bawa pakaian sehari hari, karena di enggano relatif lama.Demikian, kalau ada berta lain nanti disusulkan, terima kasih, jazakallah khair. Juga jangan lupa peralatan mandi dan cuci.

Saat menulis bahan ini lepas Maghrib, jaringan internet juga telepon seluler sudah menghilang. Sebagian penumpang juga sudah mulai berpindah ke dipan kapal dengan matras empuknya. Angin laut tambah besar masuk ke lorong kapal. Kopi panas sepertinya kurang mempan mengusir suasana sepoi sepoi angin laut. Sekeliling arah luar kapal gelap, tapi di kapal heboh dengan musik campursari. Toh demikian, yang membanggakan pengumuman waktu shalat dan Adzan keluar dari pengeras suara dengan keras, seakan tak memiliki pengaruh dengan heboh di medsos. 

“Lurah laut”, ustadz Rojali kawan seangkatan beliau biasa menyebut sang tokoh dakwah yang telah lama tinggal di pulau Enggano Bengkulu. Sebutan ini disematkan karena kesenangan dan kemampuan beliau menaklukkan laut serta ikannya. Sebagai orang pulau, kemampuan itu akan meringankan biaya lauk pauk, sementara di kawasan itu yang ada hanya laut, ikan dan pisang. 

Beliau dikenal dengan ustadz Syafruddin Zakaria Labai Lc, mahasiswa yang pernah dikirim Pak Natsir menimba ilmu ke Riyadh tahun 1984, saat putra pertamanya baru 9 bulan. Ke Madinah seangkatan dengan ustadz Usmar Marlin, Tajudin Qurtubi, Sudirman Marsudi dan beberapa dari Jatim yang sudah mulai lupa namanya. Sebelumnya, tahun 1977 beliau dikirim ke Pesantren Darul Fallah Ciampea Bogor untuk belajar keterampilan dan pertanian. Tahun 1978 dikirim balik ke Bengkulu dan mulai menyapa kawasan pulau ini. Pribadinya sabar, jika bicara cenderung datar dan kecil. Tapi karena kualitas konten bicaranya yang kuat, nyata dari hati serta berasal dari aktivitasnya, sehingga mampu mengubah daya tarik lawan bicara untuk mendengarnya. 

Saat itu Malakoni, Banjarsari, Ka’ana beberap kampung yang ada Masjid panggungnya. Sedangkan Meyok sebagai pusat Kristennya dan baru bisa dibangun Masjid pada tahun 95 karena Muslim mulai ada sebanyak 5 kk. Saat beliau mengawali dakwahnya, sempat tidur di emperan, kemudian dijadikan anak angkat dan mendapat gelar dari suku Kaitora di Ka’ana. Transportasi belum ada, beliau biasa jalan kaki dari saat dakwah dari Malakoni ke Banjar 17 kilo meter. Sedangkan Meok saat mengawali dakwah baru 1 kk dan sekarang sudah 30 kk. Jika mungkin, transportasi laut dipilih, menyisir pulau dengan sampan karena jalan belum tersedia, kadang kala dilakoni dengan berenang.

Saat menjadi anggota dewan tahun 1999-2004 mulailah ada transmigran masuk ke Malakoni, kawasan ini semakin ramai dan suasana kehidupan Muslim bisa terlihat. Asal mereka dari Jawa dan warga lokal Bengkulu. Tahun 2004-2009 kepilih lagi menjadi anggota dewan. Hingga kini beliau masih memberikan perhatian ke daerah ini, berupa pengajin pekanan. Sedangkan anak-anak mulai dikelola oleh generasi yang lebih muda.

Kini dakwah di pulau itu telah berusia 44 tahun sejak sang dai merintisnya. Menjadi dai Dewan Dakwah sejak masih muda hingga kini. Saat ini beliau menjadi Ketua Majlis Syura Provinsi Bengkulu, lembaga yang dirintis oleh tokoh dakwah yang juga pahlawan nasional bersama kawan-kawan seperjuangannya.

Keberangkatan rombongan pada Rabu tanggal 16 Maret ini sampai selesai, kemungkinan sampai Selasa depannya karena jadwal perahu yang molor akibat keberangkatan yang tertunda karena badai laut. Rombongan kafilah dakwah terdiri dari 37 jiwa, campuran generasi tua kawan-kawan ustadz Syafrudin disertai anak-anak muda binaan beliau. 

Saat ditugaskan, dalam catatan bidang dakwah beliau menerima honor 75 ribu rupiah. Saat itu mungkin nilai itu sudah besar, walaupun tahun ini coba saya cek ulang berapa mukafaahnya ternyata masih kecil juga, hanya 550 ribu rupiah. Tapi itulah barokahnya jadi juru dakwah, banyak sedikit hanyalah persepsi. Kata sebagian dai yang lain, honor sejatinya hanya dipahami sebagai bentuk pengakuan, bukan penghasilan.

Hal itu lebih karena juru dakwah sudah menyatu dengan masyarakat. Menjadi bagian dari kehidupan sosial, apalagi sang dai sendiri berada pada satu kawasan pedesaan yang secara kultur memiliki budaya egaliter. Juga, posisi juru dakwah yang juga memiliki kesibukan ekonomi yang juga cenderung mirip dengan model ekonomi masyarakatnya. 

Beliau sebenarnya adalah pribadi kelahiran daratan Bengkulu, bukan asal pulau. Tapi tugas dakwah membawanya ke pulau Enggano, sebagaimana juga Qasim bin Abas yang melakukan dakwah sampai meninggal dan kemudian dimakamkan di Samarkhan Soviet kala itu. Sanga putra sahabat berkelana kekawasan itu di abad ke 7 M, di mana warisan nilainya masih bisa dilihat sampai saat ini. 

Sang lurah laut, sekarang juga membina pesantren pertama di Enggano, dibantu adik iparnya dan juga mahasiswa STID M. Natsir yang sedang mendapatkan tugas pengabdian. Beliau masih semangat melakukan dakwah hingga saat ini walaupun mengalami musibah terkena karang racun pada kakinya, yang menyebabkan harus diamputasi kelingkingnya. 

Pada tahun awal reformasi, saat kemunculan partai-partai baru, beliau sempat menjadi wakil rakyat tingkat satu dari salah satu partai Islam. Setelah pensiun, beliau tetap menekuni dunia dakwah yang telah membesarkanya dan menjadi urat nadi hidupnya. 

Diharapkan dari usaha pesantren tersebut, akan lahir penerus tugas dakwah melalui pembinaan lanjuta ke Akademi Dakwah Indonesia yang ada di Bengkulu dan juga melanjutkan serjananya ke Jakarta. Sekarang ADI sudah memasuki angkatan kedua, ada 9 mahasiswa yang sebelumnya sudah ada yang dikirimkan ke Jakarta 3 orang dari 5 orang angkatan pertama. 

Saat Dewan Dakwah memasuki usia ke 55 tahun pada 2022 ini, wilayah Bengkulu berusia 44 tahun. Biar lebih kuat azam dan dorongannya, peringatan ke 44 tahun ini dilaksanakan di Enggano, karena juga Pak Natsir mengutus sang dai ke kawasan ini.

Selamat beraktivitas, bukan ulang tahun kan? Hanya ingin mengingatkan tentang tanggungjawab dakwah yang ternyata sudah berjalan selama 44 tahun. Sudah lama, dan telah menorehkan catatan keberhasilan, yang kata sang tokoh, “Semoga masih bisa membersamai dakwah di tahun-tahun yang akan datang”. 

Darmaga Enggano jelang Subuh, 17/3/22

Leave a Reply

Your email address will not be published.