ADI Pontianak: Satu Model “Universitas Ideal”

Oleh: Dr. Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Alhamdulillah, pada 15-17 Maret 2022, saya berkesempatan melakukan safari dakwah ke Pontianak, Kalimantan Barat. Acara utama adalah memberikan orasi ilmiah pada acara Wisuda Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Acara wisuda itu berlangsung sederhana, tetapi dirancang dengan serius.

Walikota Pontianak – karena berhalangan – mengutus seorang pegawai senior di Pemda Pontianak untuk memberikan sambutannya. Hadir juga direktur ADI Pontianak, para dosen, pimpinan Dewan Da’wah Kalimantan Barat, dan juga para wali mahasiswa.

Kampus ADI Pontianak baru berjalan selama setahun. Kampus menempati satu bangunan sebanyak 30 kamar di Kota Pontianak. Seorang pengusaha muslim mewakafkan rumah “kos-kosan” tersebut untuk digunakan sebagai kampus ADI. Ketika berkunjung ke bangunan kampus ADI, 17 Maret 2022, saya melihat suasana kampus yang bersahaja dan bersih.

Jumlah mahasiswa ADI angkatan pertama adalah tujuh orang. Di tengah jalan, tersisa enam orang. Mereka berasal dari sejumlah kota di Provinsi Kalimantan Barat. Setelah lulus pendidikan dai selama setahun, mereka akan dikirim ke sejumlah daerah untuk melakukan pengabdian dakwah di tengah masyarakat. Sebagian juga melanjutkan ke pendidikan ke jenjang S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir.

ADI Pontianak merupakan satu dari 26 ADI yang telah berdiri di 26 kota. Jumlah ini masih terus bertambah.  Model Pendidikan Tinggi setingkat D-1 ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan dai yang cukup tinggi di tengah masyarakat. Mereka dibekali dengan semangat, ilmu, dan ketrampilan untuk terjun ke tengah masyarakat.

*****

Dalam orasi ilmiah di ADI Pontianak tersebut, saya mengingatkan kembali makna “universitas” yang sebenarnya dalam Islam. Bahwa, universitas adalah tempat untuk mendidik seorang menjadi manusia seutuhnya (al-insan al-kulliy). Di universitas itulah manusia dididik untuk mengenal Tuhannya, mengenal Nabinya, dan juga memahami tujuan hidupnya dengan baik. Juga, ia dididik menjadi pejuang dakwah (dai) yang melanjutkan perjuangan para nabi.

Aktivitas dakwah – mengajak manusia ke jalan Allah – adalah aktivitas yang sangat mulia. (QS 41:33). Di Kota Pontianak ada satu universitas besar, bernama Universitas Tanjung Pura, yang pada tahun 2021 menempati ranking ke-58, versi Kemendikbud. Banyak hal baik yang bisa diambil dari Universtas Tanjung Pura tersebut.

Meskipun pendidikan ADI bersifat non-formal, dan tidak memberikan gelar akademik, tetapi saya mengajak para dosen dan mahasiswa ADI tidak merasa minder (rendah diri). Yang harus dilakukan adalah belajar ikhlas dan sungguh-sungguh untuk meraih ilmu yang bermanfaat.

Sepatutnya, umat Islam memiliki pola pikir sebagaimana panduan al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Al-Quran menyebutkan, bahwa manusia yang paling mulia adalah orang yang taqwa (QS 49:13). Maka, setiap proses pendidikan yang meningkatkan iman dan taqwa serta akhlak mulia, pastilah merupakan pendidikan terbaik.  Dalam proses ini sudah tercakup upaya untuk mengembangkan potensi diri dan membangun kemandirian seseorang.

Apalagi, saat ini, kita telah memasuki era disrupsi, dimana informasi tentang ilmu pengetahuan begitu melimpah ruah di dunia maya. Dalam situasi seperti ini, maka kampus-kampus non-formal seperti ADI dapat memainkan peran penting dalam proses pendidikan yang sebenarnya. Yakni, bagaimana menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri seseorang. Proses penanaman nilai itu tidak bisa dilakukan secara daring (online), tetapi harus dilakukan dengan cara interaksi (mulazamah) antara guru dan murid.

Di Kampus ADI Pontianak proses pendidikan yang bersifat integral itu diterapkan. Para mahasiswa dididik langsung oleh beberapa cendekiawan dan aktivis dakwah yang cukup berpengalaman dalam lapangan dakwah. Kepada para mahasiswa itu pun saya sampaikan agar jangan risau dengan masa depan, khususnya terkait dengan masalah pekerjaan dan pendapatan.

Disamping para mahasiswa ADI juga dibekali dengan ilmu dan ketrampilan untuk hidup mandiri, saya juga menyampaikan pesan-pesan para tokoh Dewan Da’wah yang menekankan keyakinan akan pertolongan Allah untuk para pejuang di jalan Allah. (QS 47:7). Alhamdulillah, sampai sekarang, saya belum mendengar ada guru ngaji yang mati kelaparan.

Kepada para mahasiswa angkatan pertama ADI Pontianak itu, saya juga mengajak agar mereka bersyukur karena mereka telah berhasil menjadi pelopor dalam pendirian satu lembaga pendidikan dakwah. Tidak mudah untuk menjadi pioneer.  Begitu juga pimpinan Dewan Da’wah Pontianak yang dengan berani dan tekun memulai serta mengelola dengan penuh ketekunan dan kesabaran.

Inilah hakikat makna universitas yang sebenarnya. Universitas jangan dimaknai secara administratif belaka, sebagai satu institusi pendidikan tinggi yang terdiri dari sejumlah fakultas. Tapi, di situ tidak diutamakan pembentukan kepribadian manusia yang seutuhnya. Jika hanya melatih mahasiswa untuk punya ketrampilan tertentu, maka itu lebih tepat disebut sebagai BLK (Balai Latihan Kerja).

Dalam perspektif ta’dib, maka latihan kerja pun sangat diperlukan. Tetapi, itu bukan tujuan pendidikan yang utama. Ketrampilan kerja adalah salah satu kompetensi yang perlu dikuasai oleh mahasiswa, agar mereka bisa hidup mandiri. Kita doakan, semoga ADI Pontianak semakin berkembang dan meningkat kualitasnya sebagai universitas sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *