Ini Enam Peran Penting Tokoh-tokoh Minang dalam Penyelamatan NKRI

Padang, dewandakwah.com – Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Dr. Adian Husaini menegaskan bahwa di setiap peristiwa penting dalam sejarah lahirnya NKRI tidak pernah lepas dari tokoh-tokoh asal Minang. Hal itu diungkapkan ketika memberi materi keislaman dan keindonesiaan dalam acara Haflah Dewan Da’wah ke-55 di Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (26/02/22).

Peristiwa pertama adalah lahirnya Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945 oleh Panitia Sembilan. “Ada tiga orang Minang di dalam panitia tersebut, yakni Agus Salim, Muhammad Yamin, dan Muhammad Hatta,” kata dia.

Sebagaimana diketahui, Piagam Jakarta inilah yang kemudian menjadi teks Pembukaan UUD 1945 dengan tujuh kata yang dihapus. Adian mengaku sangat takjub dengan draft tersebut.

“Saya menduga kuat, yang menyusun draftnya adalah Haji Agus Salim. Karena draft tersebut sangat menggambarkan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, khususnya pada aline ketiga. Antara kuasa Allah dan usaha manusia sama-sama diakui,” ujar mantan wartawan istana tersebut.

Peristiwa kedua ketika penghapusan tujuh kata di poin pertama Piagam Jakarta pada 18 agustus 1945. Tujuh kata itu berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Dari beberapa sumber, yang menuntut adalah pihak Kristen dari Indonesia bagian Timur. Ancamannya adalah pemisahan diri dari Indonesia. Kalau sampai terjadi, perpecahan tersebut bisa dimanfaatkan oleh pihak penjajah.

“Maka lagi-lagi, tampillah sosok orang Minang, Bung Hatta, yang mengajak Ki Bagus, Kasman, dan T.M. Hassan untuk berunding soal penghapusan tujuh kata itu dan disetujui. Dengan tambahan kalimat “Yang Maha Esa” sebagai penggantinya,” kata Adian.

Akibat penghapusan itu, timbul kekecewaan dari umat Islam. Tapi tidak sampai menghilangkan kecintaan mereka terhadap NKRI. Terbukti dari peristiwa ketiga, ketika tantara sekutu, Belanda dan Inggris datang kembali ke Nusantara, Surabaya tepatnya, pada 28 Oktober 1945.

Lalu keluarlah Fatwa Jihad KH. Hasyim Asy’ari yang menegaskan, fardhu ‘ain hukumnya berjihad melawan pasukan sekutu bagi yang tidak berada dalam jarak safar. Fatwa itulah yang kemudian menggerakkan ruh jihad kaum Muslimin, bahkan sang jendral yang merupakan alumni perang dunia kedua harus tewas di tangan santri.

“Perlu diketahui, meskipun Hasyim Asy’ari bukan orang Minang, tapi ia pernah berguru langsung kepada Ulama Minang sekelas internasional, Ahmad Khatib al-Minangkabawi ketika di Mekah. Jadi secara tidak langsung, sang guru mempunyai pengaruh yang begitu kuat dalam perjalanan Hasyim Asy’ari,” ungkap Adian.

Peristiwa keempat adalah terwujudnya gagasan Mosi Integral ulama asal Alahan Panjang Sumatera Barat, Mohammad Natsir, pada 3 April 1950. Berkatnya, Indonesia menjadi negara kesatuan, tidak lagi terpecah menjadi 16 negara bagian.

“Dengan hikmah dan kelihaiannya dalam berlobi, Pak Natsir mampu membuat semua kalangan, dari pihak yang ideologinya paling kiri sampai yang paling kanan, menerima ide briliannya itu,” ujar penulis buku “Bersama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Menuju Negara Adil-Makmur 2045” itu.

“Sampai kepada pihak yang paling sulit menerima pun, ia bisa. Ia meyakinkan dengan berucap, ‘Kita punya Bung Karno dan Bung Hatta, sementara negara lain tidak punya.’ Jadi meskipun berbeda jauh ideologi politik antara Natsir dan Soekarno, Natsir tetap mempercayainya,” imbuhnya lagi.

Peristiwa penting kelima adalah ketika Buya Hamka dan Mohammad Natsir mampu melunakkan hati Syafruddin Prawiranegara untuk menyerahkan kembali mandat kepresidenan kepada Bung Karno. Hal ini terjadi ketika Syafruddin memimpin Pemerintahan Darurat Rapublik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat pada 22 Desember 1948

“Cara Pak Natsir sangat lembut. Kepada Syafruddin ia mengatakan, “Secara hukum anda memang benar, tapi orang Indonesia dan dunia internasional taunya presiden Indonesia adalah bung karno,” ungkap penulis buku “55 Tahun Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia” itu.

Peristiwa terakhir adalah ketika Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia lahir dan Mohammad Natsir buru-buru mengirim sebanyak-banyaknya dai ke berbagai pelosok untuk melakukan islamisasi dan menangkal kristenisasi.

“Mengapa hal itu penting, karena menurut pakar sejarah Melayu-Nusantara, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Nusantara ini penyatu utamanya ada dua. Yaitu agama Islam dan bahasa Melayu,” ujar Adian.

“Jadi saya yakin, kalau DDII dan para da’inya terus tersebar di seluruh penjuru Indonesia dan ormas-ormas Islam tidak berpecah belah, Indonesia ia akan tetap kokoh dan tidak mudah hancur,” tegasnya lagi.

Di akhir, Adian berpesan, soal keindonesiaan, jangan sok mengajarkan orang Islam. Jangan terus dibentur-benturkan antara keislaman dan keindonesiaan. Biarkan umat Islam membingkai NKRI daam perspektif mereka sendiri, jangan terus dipaksakan ke arah sekularisme.

“Umat Islam masih dan akan terus cinta NKRI, bagaimanapun kondisinya ke depan. Sebab ini amanah dari Allah. Sampai kapanpun umat Islam akan terus menjaga negeri ini sebagaimana yang dilakukan Bapak-Bapak kita sebelumnya,” ujar penulis buku “Berbeda Berdialog Berjuang Bersama” itu.*

Laporan: Fatih Madini/Editor: Ibnu Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *