Ketua Dewan Da’wah Sumbar Bantah Natsir Pemberontak Negara

Padang, dewandakwah.com – Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Sumatera Barat, Prof Yaswirman, menyayangkan adanya tuduhan kepada Mohammad Natsir sebagai pemberontak negara. Sanggahan ini disampaikan Yaswirman pada perhelatan Rakornas Dewan Da’wah di Kota Padang, Jumat (25/2/2022).

Yaswirman menyebutkan kesan yang miring terhadap Natsir disebabkan oleh suasana politik dan pendidikan sejarah yang kurang baik.

“Masa suram Natsir diciptakan oleh suasana politik. Buku sejarah yang dibuat pemerintah tujuannya adalah melanggengkan kepemimpinannya. Yang tidak sejalan dengan pemerintah maka tidak dijelaskan secara rill,” ucap Guru Besar Bidang Hukum Universitas Andalas ini.

Seperti yang diketahui, pada masa kiprahnya, Natsir dianggap sebagai kubu oposisi pemerintah. Akibatnya, buku-buku sejarah yang terbit hingga saat ini tidak terlalu memunculkan sosok dan perjuangan Natsir, bahkan di beberapa bagian memberikan kesan yang tidak baik kepadanya.

“Buku itu diajarkan kepada siswa-siswa yang kemudian mereka menjadi pejabat kelak. Sehingga sebagian orang berpikir Natsir adalah pemberontakan. Itulah kesan mereka yang keliru. Meski mereka mempersilahkan untuk mengajukan sebagai pahlawan, tapi kesan pemberontak itu tidak hilang. Bahkan, mereka menjadi penguasa dan penentu kebijakan publik,” ungkap Yasmirwan.

Yaswirman kemudian menceritakan contoh kesetiaan Natsir kepada NKRI. Salah satunya adalah ketika Natsir meredam gerakan pemberontakan DI/TII di Aceh tahun 1953 yang dipimpin oleh Daud Beureueh.

“Ketika beliau bertemu dengan Daud Beureueh, beliau ingin memberantas Aceh Merdeka. Beliau bilang kepada Daud, ‘Kita sama-sama Islam. Jika kita bertempur, tidak ada yang dari kita yang akan mati fisabilillah. Terenyuh pimpinan Aceh Merdeka itu. Begitulah model diplomasi Natsir dalam menyatukan NKRI,” ujar dia.

Contoh lain juga dapat diambil dari kisah Natsir ketika diminta pemerintah Orde Baru untuk membuka investasi dengan Jepang. Natsir kemudian berangkat ke Jepang dan bertemu dengan para investor dan Perdana Menteri jepang, sehingga terbukalah kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan Jepang.

PM Jepang yang begitu berterima kasih dengan Natsir, berniat memberikan hadiah, tetapi Natsir menolaknya. “Soeharto ingin investasi Jepang masuk ke Indonesia. Natsir diminta membantu. Beliau berangkat ke Tokyo bertemu dengan para investor dan PM Jepang. Investor itu berterima kasih kepada Natsir dan ingin memberikan hadiah. Kata Natsir berikanlah hadiah kepada rakyat, dia menolaknya,” pungkas Yasmirwan.*

Laporan: Azzam Habibullah/Editor: Ibnu Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published.