Karena Ilmu Rusak, Pelaku Zina Dianggap bukan Korban

Oleh: Dr. H. Adian Husaini, M.Si

(Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Di berbagai media masih terus bertebaran opini yang memandang bahwa Permendikbud Ristek No 30 patut didukung karena membela para korban kekerasan seksual. Yang dimaksud “korban” kekerasan seksual, adalah orang yang mengalami kekerasan seksual – tanpa persetujuan orang itu.

Nah, kata pendukung Permendikbud Ristek No 30 tersebut, ungkapan “tanpa persetujuan korban” itu bukan berarti melegalkan seks bebas di kampus. Sebab, masalah seks bebas itu sudah diatur oleh peraturan-peraturan lainnya. Jadi, Permendikbud itu hanya fokus terhadap penanganan korban kekerasan seksual. Sedangkan para sivitas akademika yang melakukan kejahatan zina atas dasar persetujuan dan saling suka, maka tidak perlu diatur dalam Permendikbud tersebut.

Itulah cara berpikir yang patut ditinjau kembali. Kita bisa menyimak satu kasus yang menimpa mahasiswi di Jawa Timur. Ia akhirnya melakukan aksi bunuh diri disamping makam ayahnya, karena tidak tahan dengan penderitaan jiwa yang dialaminya. Padahal, ia melakukan aksi perzinahan dengan pacarnya secara sukarela, tanpa ada paksaan. Jelas, si mahasiswi itu korban kejahatan seksual.

Berikut ini kutipan berita di suatu media: “Seperti diungkap dalam konferensi pers yang dipimpin Wakapolda Jawa Timur Brigjen Pol Slamet Hadi supraptoyo di antara Novia Widyasari dengan Bripda Randy sudah berkenalan sejak November 2019 ditemukan juga bukti lain bahwa korban selama pacaran yang terhitung mulai bulan Oktober 2019 sampai 2 Desember 2021. Setelah itu melakukan tindakan aborsi bersama yang dilakukan pada bulan Maret tahun 2020 dan bulan Agustus 2021. Selama pacaran Oktober 2019 sampai dengan bulan Desember 2021 sesudah melakukan tindakan aborsi yang mana dilaksanakan pertama adalah bulan Maret tahun 2020 yang kedua adalah bulan Agustus 2021.” (https://portalsulut.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-853174934/inilah-fakta-fakta-kasus-bunuh-diri-novia-mahasiswi-ub-malang-setelah-dihamili-kekasihnya-anggota-polres).

Itulah contoh nyata, bahwa perzinahan yang terjadi dengan saling persetujuan, adalah kejahatan seksual yang sangat besar dosanya di mata Tuhan Yang Maha Esa. Sudah cukup banyak penelitian yang menunjukkan maraknya praktik seks bebas di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Maka, tugas para pendidik dan juga Pak Menteri Pendidikan adalah juga menangani masalah ini, sehingga sepatutnya, Permendikbud Ristek No 30 itu juga mencakup tentang kejahatan seksual, baik yang dilakukan dengan kekerasan atau tanpa kekerasan; baik dengan paksaan atau tanpa paksaan! Itulah yang disarankan oleh MUI, Muhammadiyah, Majelis Ormas Islam (MOI), dan banyak pakar pendidikan di Indonesia.

Beberapa pemberitaan yang mencuat seputar kekerasan seksual memang terjadi pada beberapa mahasiswi yang mengungkap kekerasan seksual yang dilakukan oleh dosennya. Dosen yang disebut melakukan aksi bejat itu memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya untuk melampiaskan hawa nafsunya kepada pihak yang lemah, yaitu mahasiswinya. Tentu saja, dosen yang terbukti melakukan kekerasan seksual seperti itu tidak patut menjadi dosen, dan harus langsung dipecat serta dipidana.

Masalahnya, bagaimana jika antara dosen dan mahasiswi itu sepakat untuk berbuat zina, demi kemudahan kelulusan skripi, misalnya? Apakah mereka bukan korban? Tentu saja, dalam pandangan Islam, keduanya adalah korban, karena telah terjerumus ke dalam dosa besar. Mereka itu korban dari tipudaya setan.

Islam memandang zina adalah kejahatan yang sangat serius, sehingga hukuman zina begitu berat. Pandangan alam (worldview) Islam itu sangat berbeda dengan worldview sekuler yang memandang zina bukan suatu kejahatan, asalkan dilakukan atas dasar saling persetujuan, dan sama-sama dewasa. Di sinilah tampak perbedaan cara pandang yang mendasar dalam memandang soal kejahatan seksual. Apakah mau menggunakan cara pandang agama atau menggunakan cara pandang bukan agama!

Cara pandang yang memandang remeh masalah kejahatan perzinahan tentu saja berakar pada kerusakan ilmu. Karena itulah, dalam Islam, rusaknya ilmu merupakan pangkal kejahatan di mata Tuhan Yang Maha Esa. Maka, pengkhianatan terhadap ilmu dipandang sebagai pengkhianatan yang terbesar dalam pandangan Islam.
Dalam bukunya, Ar-Rasul wal-‘Ilm, (Di-Indonesiakan oleh Amir Hamzah Fachrudin dkk., 1994)

Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengutip satu hadits Rasulullah saw : ‘’Hendaklah kalian saling menasehati dalam ilmu. Sesungguhnya pengkhianatan seseorang terhadap ilmunya lebih berbahaya daripada pengkhianatannya terhadap hartanya. Dan sesungguhnya Allah akan menanyai kalian semua pada hari kiamat nanti.’’ (HR ath-Thabrani).
Menurut Syekh al-Qaradhawi, hadits itu memberi makna, bahwa pengkhianatan terhadap harta – walaupun dalam jumlah yang besar – akibat buruknya terbatas. Lain dengan pengkhianatan terhadap ilmu yang akibatnya akan menghancurkan semua lapisan masyarakat. Dalam istilah Prof. Naquib al-Attas, kerusakan ilmu disebut juga sebagai ‘’corruption of knowledge’’. Korupsi ilmu jauh lebih dahsyat akibatnya dibandingkan dengan korupsi harta.

Kita tahu, bagaimana kerasnya Rasulullah saw dalam menjatuhkan sanksi terhadap pelaku korupsi harta. Beliau saw pernah tidak mau men-shalatkan jenazah seorang yang meninggal di medan jihad, gara-gara orang itu berlaku curang dalam soal harta rampasan perang. Dalam soal ilmu, Islam menerapkan hal yang lebih keras lagi. Pelakunya bisa terkena kategori ‘riddah’ (murtad) dan akan mendapatkan ‘dosa jariyah’ akibat mengajarkan ilmu yang salah atau ilmu yang sesat.

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang di dalam Islam mengerjakan amal yang baik maka dia akan mendapatkan pahala dan pahala orang yang beramal dengannya sesudahnya, tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun. Dan barangsiapa yang beramal buruk, maka dia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa dikurangi dosanya sedikitpun.” (HR Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad).

Demikianlah peringatan Rasulullah saw. Jadi, kita perlu sangat berhati-hati dalam masalah ilmu. Jika ilmu itu benar, diamalkan, dan diajarkan, maka si pemilik ilmu akan mendapatkan pahala yang ‘jariyah’ (mengalir), meskipun dia sudah meninggal. Sebaliknya, jika ilmunya salah, dan diajarkan kepada banyak orang, maka dia akan mendapatkan dosa yang terus-menerus dari orang yang menerima ilmunya.

Karena itu, agar mendapat ilmu yang bermanfaat, jangan sembarangan memilih guru dalam belajar! Jangan demi gengsi dan tujuan meraih harta dunia, maka iman dan akhlak dikorbankan.

Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan bergerak kaki manusia pada Hari Kiamat, sampai mereka ditanyai tentang empat perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa ia gunakan, (2) tentang masa mudanya, untuk apa dia habiskan, (3) tentang hartanya, darimana dia dapatkan dan untuk apa ia gunakan, (4) tentang ilmunya, apa yang ia amalkan.” (HR Al-Bazzar dan ath-Thabrani). Waallahu a’lam bish-shawab. (Mataram NTB, 3 Januari 2021).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *