Solusi Mendasar Mohammad Natsir Terhadap Problematika Bangsa Indonesia

Oleh: Dr. H. Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Pada 17 Agustus 1951, hanya enam tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, Mohammad Natsir menulis sebuah artikel berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.” Artikel Mohammad Natsir ini sangat penting untuk terus kita renungkan. Sebab, artikel itu berkaitan dengan kondisi jiwa bangsa kita yang sudah berubah, hanya beberapa tahun saja, setelah kita merdeka.

Bangsa kita pun sadar, bahwa eksistensi dan kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kondisi jiwanya. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” menyerukan: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.”  

Dalam bukunya, Pribadi, Buya Hamka mengutip pepatah Arab yang menyatakan: “Aqbil ‘ala an-nafsi, wa-ahsin fadhaailahaa. Fainnaka bin-nafsi laa bil-jismi insaanun.” (Fokuskan dirimu pada jiwamu, dan sempurnakanlah keutamaan-keutamaannya. Sebab, pada hakikatnya, anda disebut manusia, karena jiwa anda, bukan karena tubuh anda).

Dan, al-Quran al-Karim sudah menegaskan: “Sungguh sukses orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh gagal orang yang merusak jiwanya.” (QS asy-Syams: 9-10).

Mohammad Natsir, tidak dipungkiri, adalah salah satu tokoh besar yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Atas berbagai jasanya, maka

pada tahun 2008,  pemerintah RI memberi penghargaan berupa gelar PAHLAWAN NASIONAL kepada Mohammad Natsir.

Untuk lebih jelasnya, bagaimana pesan-pesan Natsir tentang kondisi jiwa bangsa kita, maka kita simak petikan tulisan Mohammad Natsir berikut ini:

“Hari ini, kita memperingati hari ulang tahun negara kita. Tanggal 17 Agustus adalah hari yang kita hormati. Pada tanggal itulah, pada 6 tahun yang lalu, terjadi suatu peristiwa besar di tanah air kita. Suatu peristiwa yang mengubah keadaan seluruhnya bagi sejarah bangsa kita. Sebagai bangsa, pada saat itu, kita melepaskan diri dari suasana penjajahan berpindah ke suasana kemerdekaan…

Kini!

Telah 6 tahun masa berlalu. Telah hampir 2 tahun negara kita memiliki kedaulatan yang tak terganggu gugat. Musuh yang merupakan kolonialisme, sudah berlalu dari alam kita. Kedudukan bangsa kita telah merupakan kedudukan bangsa yang merdeka. Telah belajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Telah menjadi anggota keluarga bangsa-bangsa. Penarikan tentara Belanda, sudah selesai dari tanah air kita. Rasanya sudahlah boleh bangsa kita lebih bergembira dari masa-masa yang lalu. Dan memang begitulah semestinya!

Akan tetapi, apakah yang kita lihat sebenarnya?

Masyarakat, apabila dilihat wajah mukanya, tidaklah terlalu berseri-seri. Seolah-olah nikmat kemerdekaan yang telah dimilikinya ini, sedikit sekali faedahnya. Tidak seimbang tampaknya laba yang diperoleh dengan sambutan yang memperoleh!

Mendapat, seperti kehilangan!

Kebalikan dari saat permulaan revolusi. Bermacam keluhan terdengar waktu itu. Orang kecewa dan kehilangan pegangan. Perasaan tidak puas, perasaan jengkel, dan perasaan putus asa, menampakkan diri. Inilah yang tampak pada saat akhir-akhir ini, justru sesudah hampir 2 tahun mempunyai negara merdeka berdaulat.

Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau.

Mengapa keadaan berubah demikian?

Kita takkan dapat memberikan jawab atas pertanyaan itu dengan satu atau dua perkataan saja. Semuanya harus ditinjau kepada perkembangan dalam masyarakat itu sendiri. Yang dapat kita saksikan ialah beberapa anasir dalam masyarakat sekarang ini, di antaranya:

Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai. Sengaja ditonjol-tonjolkan kemuka apa yang telah dikorbankannya itu, dan menuntut supaya dihargai oleh masyarakat. Dahulu, mereka berikan pengorbanan untuk masyarakat dan sekarang dari masyarakat itu pula mereka mengharapkan pembalasannya yang setimpal… Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu, dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri. Segala kekurangan dan yang dipandang tidak sempurna, dibiarkan begitu saja. Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang di luar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat!… ”

”Saudara baru berada di tengah arus, tetapi sudah berasa sampai di tepi pantai. Dan lantaran itu tangan saudara berhenti berkayuh, arus yang deras akan membawa saudara hanyut kembali, walaupun saudara menggerutu dan mencari kesalahan di luar saudara. Arus akan membawa saudara hanyut, kepada suatu tempat yang tidak saudara ingini… Untuk ini perlu saudara berdayung. Untuk ini saudara harus berani mencucurkan keringat. Untuk ini saudara harus berani menghadapi lapangan perjuangan yang terbentang di hadapan saudara, yang masih terbengkelai… Perjuangan ini hanya dapat dilakukan dengan enthousiasme yang berkobar-kobar dan dengan keberanian meniadakan diri serta kemampuan untuk merintiskan jalan dengan cara yang berencana.”

Demikian pesan-pesan perjuangan M. Natsir, seperti dapat kita baca selengkapnya pada buku Capita Selecta 2, (Jakarta: PT Abadi, 2008).

****

Mengambil pelajaran dari petuah Mohammad Natsir tersebut, kita dapat memahami bahwa akar persoalan bangsa Indonesia yang harus dipecahkan, khususnya oleh kaum Muslim sebagai mayoritas bangsa. Akar masalah itu adalah penyakit ”hubbud-dunya” atau penyakit cinta dunia yang sudah menggurita. Betapa pun sistem pengawasan dan UU anti-korupsi diperbaiki dengan secanggih-canggihnya, tetapi jika penyakit cinta dunia itu sudah mendarah daging, maka ada saja peluang untuk berbuat kejahatan.

Lihatlah kasus yang melilit berbagai lembaga penegakan hukum sekarang ini! Orang yang semula dipuja sebagai tokoh pemberantas korupsi, tiba-tiba harus berhadapan dengan kasus serupa yang menimpa dirinya. Godaan dunia berupa harta, tahta, dan juga wanita, sudah banyak membawa korban bagi para pemuka negeri ini.

Dalam lapangan pendidikan, misalnya, kita bersyukur, saat ini anggaran di bidang pendidikan semakin membesar. Kesejahteraan guru semakin diperhatikan. Biaya bantuan untuk operasional sekolah juga ditingkatkan. Tetapi, pada sisi lain, karena penyakit cinta dunia yang sudah mendarah daging, berapa pun gaji yang diterimanya, tidaklah dia akan merasa cukup. Banyak orang korupsi bukan karena terpaksa untuk sekadar mengisi perut atau mencukupi kebutuhan pokok keluarganya, tetapi korupsi dilakukan karena keserakahan, karena ingin hidup mewah. Banyak yang sudah bergaji puluhan juta rupiah per bulan, tetapi tetap saja tidak mencukupi kebutuhan hawa nafsunya.

Maka, ketika ditanya oleh para cendekiawan Muslim, seperti Dr. Amien Rais dan kawan-kawan, pada 1980-an, penyakit apakah yang paling berbahaya bagi bangsa Indonesia, dengan tegas M. Natsir menjawab: ”Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.” Lebih jauh Mohamamd Natsir menyampaikan pesan kepada generasi pewaris bangsa:

”Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang ”baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi, gejala yang ”baru” ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.” (Lihat, buku Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak (Jakarta: DDII, 1989).

Kita perlu benar-benar menggarisbawahi dan merenungkan kata-kata M. Natsir tersebut. Jika penyakit cinta dunia sudah merasuki jiwa manusia, pasti manusia itu akan binasa. Tidak mungkin perjuangan meraih kejayaan akan menang. Nabi Muhamamd saw pun sudah menegaskan, ”Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan Islam.” (HR at-Tirmidzi)

Banyak hadits serupa ini bisa kita baca. Jika syahwat dunia sudah mencengkeram, maka tidak mungkin diharapkan akan muncul semangat perjuangan dan semangat pengorbanan. Bangsa yang sudah hilang semangat berkorbannya, tidak akan mungkin bangkit menjadi bangsa yang besar.

Imam al-Ghazali dalam kitabnya, al-Arba’iin fii Ushuuliddin, menulis: ”Wa’lam anna hubba ad-dunya ra’su kulli khathiiatin.” (Ingatlah, sesungguhnya cinta dunia itu adalah pangkal segala kejahatan).

Di dalam sejarah peradaban Islam, penyakit inilah yang telah menghancurkan umat Islam di masa lalu. Rasulullah saw sudah banyak mengingatkan umat Islam akan bahaya penyakit ini. Kita patut waspada jika berbagai lembaga pendidikan dan berbagai lembaga  lain, sudah terjangkit penyakit ini. Sebab, untuk meraih posisi jabatan atau kepegawaian tertentu, tak jarang kita mendengar adanya praktik-praktik suap dalam proses penerimaannya.

Orang yang mencintai dunia, kata Imam al-Ghazali, sebenarnya orang yang sangat bodoh. ”Ketahuilah bahwa orang yang telah merasa nyaman dengan dunia sedangkan dia paham benar bahwa ia akan meninggalkannya, maka dia termasuk kategori orang yang paling bodoh,” kata al-Ghazali.

Agama Islam tidak mengharamkan dunia. Bahkan, Islam memberikan kemerdekaan kepada umatnya untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya, selama diperoleh dengan cara yang halal. Islam tidak mengharamkan kenikmatan dunia. Bahkan, umat Islam dipersilakan menikmatinya. Islam bukanlah agama yang mengajarkan spiritualisme ekstrim, yang mengajarkan bahwa seorang tidak dapat dekat dengan Tuhan jika dia masih menikmati kelezatan dunia.

Menurut paham ini, jika ingin dekat dengan Tuhannya, maka seseorang diharuskan meninggalkan wanita, tahta, atau harta; lalu pergi ke goa-goa atau belantara, menjauhi dunia dan mendekati Sang Maha Kuasa dengan bertapa. Islam tidak mengajarkan hal seperti itu. Seorang Muslim dapat menjadi orang yang takwa, dengan bergelimang harta dan hidup bersama istrinya. Seorang Muslim adalah seorang yang meletakkan harta dalam genggaman tangannya, dan bukan mencengkeram harta dengan hatinya, sehingga dia bersifat bakhil, pelit, dan takut kehilangan dunia.

Pesan Mohammad Natsir tentang manusia Indonesia ini kiranya bisa didengar oleh para pemimpin bangsa ini.  Kehidupan pribadi Mohammad Natsir dikenal sebagai sosok yang sederhana dan jauh dari kehidupan bermewah-mewah, meskipun ia banyak mendapat kepercayaan mengelola harta.

Kita berharap, pemimpin bangsa kita adalah orang-orang yang tidak terkena penyakit cinta dunia. Mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih jika menelantarkan rakyatnya, sementara mereka hidup dalam gemerlap dunia dengan menggunakan uang negara. Orang yang terkena penyakit cinta dunia, biasanya akan enggan mengorbankan hartanya. Apalagi, jika dia berpikir, harta yang dia miliki adalah hasil keringatnya sendiri, dan tidak ada hubungannya dengan pemberian Allah. Padahal, dia mendapatkan harta itu, juga semata-mata karena izin Allah. Jika Allah menghendaki, terlalu mudah untuk memusnahkan hartanya, termasuk mencabut nyawanya.

Allah SWT sudah mengingatkan bahwa orang yang salah paham terhadap dunia, yang mencintai dunia, dan enggan menginfakkan hartanya, pasti akan menyesal di kala ajalnya tiba, dan kemudian dia meminta waktu sedikit saja agar bisa bersedekah di dunia. Allah SWT memperingatkan dalam al-Quran yang artinya:

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ”Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Munafiqun: 9-11).

Jiwa pengorbanan! Itulah yang ditekankan oleh Mohammad Natsir. Sikap cinta pengorbanan menjadi kunci kemajuan suatu bangsa. Syekh Amir Syakit Arsalan, dalam buku terkenalnya, Limaadzaa Taakkhkharal Muslimun, wa-Limaadza Taqaddama Ghairuhum, menunjukkan sejumlah contoh kemajuan bangsa – seperti Inggris, Italia, dan juga Yahudi – yang menjadi bangsa besar karena kecintaan sikap berkorban dari rakyatnya. 

Guru Teladan

Pesan Mohammad Natsir tentang kondisi jiwa bangsa itu sangat penting untuk dicermati. Sebab, pesan itu keluar dari hati nurani seorang pejuang, pahlawan nasional, dan guru teladan. Mohammad Natsir dikenal sebagai negarawan, juru dakwah, ilmuwan, dan sekaligus tokoh pendidikan Indonesia.

Didorong oleh semangat perjuangan yang tinggi dan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, Natsir berhasil membuktikan dirinya sebagai seorang guru dan cendekiawan serta penulis yang handal. Sebagai guru, Natsir membuktikan diri sebagai guru adab dan akhlak yang hebat. Ia bukan saja mengajar, tetapi memberikan contoh dalam hal kecintaan kepada ilmu dan perjuangan. Sebab, pendidikan adab atau akhlak memang memerlukan ketaladanan, pembiasaan, dan pemotivasian.

Kisah perjalanan Mohammad Natsir dengan lembaga Pendidikan Islam yang dirintisnya  sangat menarik untuk disimak. Pendis (Pendidikan Islam) didirikan tahun 1932. Natsir yang ’lulusan AMS’ (setingkat SMA saat ini) mengambil langkah berani dan sangat idealis. Tujuan Pendis – seperti ditulis oleh Dr. Muhammad Noer dalam artikelnya berjudul ’Ideologi Pendidikan Islam Mohammad Natsir (Jurnal Pendidikan Islam, ABIM, Jld. Bil. 3, juni 1999) — adalah untuk ’mencari alternatif dari sistem pendidikan kolonial Belanda’. 

Sistem pendidikan di Pendis menitikberatkan pada: ”pembentukan pribadi yang berdaya pikir berkesinambungan daya pikir dan hati nuraninya, seimbang daya cipta dan taat tawakkalnya kepada Allah SWT.”  Menurut KH Rusyad Nurdin, murid angkatan pertama Pendis, sekolah ini dimulai dengan lima murid. Dalam 10 tahun (1932-1942), Pendis berpindah lokasi sebanyak empat kali. Tetapi, akhirnya Pendis sempat membuka cabang di Bogor, Cirebon, Jatinegara, Tanjung Priok, Kalimantan, dan sebagainya.

Kisah pendirian dan perjalanan Pendis menunjukkan, kualitas Mohammad Natsir sebagai guru, pemimpin, dan juga pejuang. Di tengah kuatnya hegemoni pendidikan sekuler yang ditanamkan oleh pemerintah kolonial Belanda, Natsir berani mengambil terobosan penting dalam memperjuangkan sistem pendidikan yang sesuai dengan konsep pendidikan Islam.

Natsir yakin bahwa kunci kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas guru. Mengutip ungkapan Dr. Nieuwenhuis, Natsir menyatakan: ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.”

Dan Natsir membuktikan dirinya sebagai guru yang hebat. Kesuksesan Natsir sebagai seorang guru juga tidak bisa dilepaskan dengan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.  Kecintaan dan kegigihannya dalam belajar mengantarkannya menjadi salah seorang ilmuwan dan cendekiawan terkemuka di Indonesia. Tetapi, Natsir bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Dia bukan cendekiawan yang ”sok netral” yang hanya rajin mengumpulkan data untuk semata-mata riset ilmiah atau menulis sekedar atas ’pesanan sponsor’.  Bahkan, Natsir kadangkala harus mencari dana sendiri untuk menyebarluaskan tulisannya. ”Kadangkala Pak Natsir menemui pedagang-pedagang di Tanah Abang menawarkan kepada mereka untuk membantu penyebaran tulisannya,” ujar seorang pengurus Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.

Tulisan-tulisan Natsir mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap agama yang dipeluknya. Dalam buku-buku dan artikel-artikel yang ditulisnya tentang berbagai masalah dalam Islam, kita bisa menemukan semangat dan kepercayaan diri yang tinggi dari seoang Natsir yang sama sekali tidak ’minder’ atau rendah diri menghadapi serbuan paham sekularisme Barat. Prestasinya di sekolah-sekolah Belanda telah menjadikan Natsir seorang yang ’percaya diri’ dan tidak silau dengan kehebatan pemikiran sekuler, yang waktu itu begitu banyak menyihir otak kaum terpelajar dan elite bangsa. 

Dalam pengantarnya untuk buku Capita Selecta (1954), Zainal Abidin Ahmad membuat komentar tentang tulisan-tulisannya Natsir:

”Tulisannya yang berisi dan mendalam dengan susunan yang berirama dan menarik hati, sangatlah memikat perhatian para pembaca. Bukan saja karena kata-katanya yang terpilih, yang disusun menurut caranya tersendiri itu, melainkan lebih utama lagi karena isinya yang bernas mengenai soal-soal sosial, ekonomi dan politik yang menjadi kebutuhan bangsa kita pada waktu itu. Semuanya dijiwainya dengan semangat dan ideologi Islam yang menjadi pegangan hidupnya.”

”Natsir,” kata Zainal Abidin Ahmad, ”Mengetahui betul kapan dia harus berteriak memberi komando untuk memimpin perjuangan bangsanya, dan dia tahu pula kapan masanya dia berkelakar dan bergembira untuk menghibur, membangkit semangat baru bagi perjuangan. Dengan lain perkataan, dia tahu waktunya untuk membunyikan terompet dengan genderang perang, jika ia hendak menghadapi lawan yang menentang cita-cita Islam, baik terhadap bangsa penjajah maupun terhadap bangsa sendiri yang belum menginsyafi akan ideologi Islam itu.”  ( Lihat, Pengantar Zainal Abidin Ahmad untuk buku M. Natsir, Capita Selecta (Jakarta: Bulan Bintang, 1973, cetakan ketiga.)

Moh. Roem menduga, kecermatan dan ketelitian Natsir dibangun dari kebiasaannya mempelajari al-Quran dengan teliti. ”Bahasa Natsir dihargai orang, malah dipuji orang. Menurut Bung Hatta, ada suatu masa, yang Presiden Soekarno tidak mau menandatangani sesuatu penerangan resmi, yang tidak disusun oleh Natsir.” (Mohamad Roem, ”Kelemahan atau Kebesaran Natsir”, dalam Anwar Harjono dkk., Mohammad Natsir… hlm. 387).

Pada  sekitar tahun 1930-an, dalam usia sekitar tiga puluhan, Natsir telah aktif menulis tentang berbagai persoalan keilmuan dan terlibat dalam perdebatan ilmiah dengan berbagai kalangan. Melalui tulisan-tulisannya, ketika itu, tampak Natsir sudah membaca berbagai literatur tentang aqidah, sejarah, ilmu kalam, tasawuf, filsafat, syariah, perbandingan agama, dan sebagainya.  Hampir dalam setiap tulisannya, Natsir mampu meramu dengan baik, sumber-sumber dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis Barat. Ambillah satu contoh sebuah artikel berjudul ”Muhammad al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)”, yang dimuat di majalah Pedoman Masyarakat, April 1937.  

Dalam artikel ini, Natsir memaparkan keagungan pemikiran dan kiprah al-Ghazali dibandingkan dengan prestasi ilmuwan-ilmuwan Barat. Kitab Maqashidul Falasifah-nya al-Ghazali, misalnya, sudah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke bahasa Latin pada abad ke-12 M. Di sini, Natsir juga menguraikan teori kausalitas al-Ghazali yang mendahului teori David Hume (1711-1776) tujuh ratus tahun sebelumnya. Natsir membantah bahwa David Hume lah sarjana pertama yang mengungkap teori kausalitas (causaliteitleer). Natsir tidak menolak jasa David Hume dalam soal ini. Tetapi, tulisnya, ”jangan dilupakan, bahwa 700 tahun sebelum David Hume, telah pernah seorang filosof Muslim di daerah Timur yang mengupas masalah ini dalam Kitabnya, Tahafutul Falasifah.”

Itulah Mohammad Natsir. Dan itulah sebagian pesan penting dan kiprahnya dalam dunia pendidikan dan keilmuan di Indonesia. Adalah menarik jika menilik perjalanan pendidikan Mohammad Natsir. Tahun 1916-1923 M. Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, M. Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung. Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di  Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.

Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs).  Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.

Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Salah satu murid M. Natsir, Syuhada Bahri menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama gurunya. Hingga menjelang akhir hayatnya, Pak Natsir, menurut Syuhada Bahri,  selalu mengkaji Tafsir al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam  pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya.  Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Berbagai penghargaan internasional lainnya diterima Mohammad Natsir dari berbagai negara.

Kembali kepada pesan Mohammad Natsir tentang kondisi jiwa bangsa yang sangat mengkhawatirkan, karena dicengkeram penyakit ”cinta dunia” dan bakhil pengorbanan. Pendidikan Nasional Indonesia sudah sepatutnya secara sungguh-sungguh memperhatikan masalah ini. Pembangunan jiwa bangsa harus menjadi perhatian utama program pendidikan nasional.

Sesuai dengan UUD 1945 pasal 31 ayat (c) dan UU No 20/2003 serta UU No 12/2012, pendidikan nasional ditujukan untuk membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Tujuan mulia ini tidak akan bisa terwujud jika para pemimpin bangsa tidak dapat menjadi teladan bagi rakyatnya.

Mohammad Natsir telah memberikan pesan-pesan mulia dan memberikan keteladanan perjuangan. Jika bangsa kita ingin sehat jiwanya dan meraih kejayaan maka keteladanan dan pesan-pesan Mohammad Natsir bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Makalah ini pernah disampaikan dalam acara Seminar tentang Keteladanan Tokoh Bangsa:  KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, dan Mohammad Natsir, oleh Kemendikbud RI, di Jakarta, pada 24 Mei 2018).

Editor: Dudy S.Takdir

Leave a Reply

Your email address will not be published.