Potensi Besar Provinsi Riau Menjadi Lokomotif Kebangkitan Peradaban Islam

Oleh: Dr. Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

“Kehadiran agama Islam dalam dunia Melayu telah memberikan energi baru dan semangat besar dalam berbagai denyut nadi kehidupan orang Melayu. Orang Melayu menempatkan agama Islam sebagai landasan dan standarisasi dalam pengembangan dan pembinaan kualitas hidup dan kehidupannya. Selain itu, orang Melayu menjadikan Islam sebagai acuan dalam bersikap, berbuat, bertindak dan berbicara untuk mencapai tujuan hidup yang berkualitas. Sikap orang Melayu itu terus bertumbuh kembang sampai hari ini, paling tidak, masih ditemukan dalam ungkapan “Melayu identik dengan Islam.”

*****

Kutipan menarik itu diambil dari buku Refleksi 57 Tahun Universitas Islam Riau (UIR): Menuju Universitas Terdepan di Asia Tenggara (Pekanbaru: UIR Press, 2019).  Ada tiga editor yang tercantum dalam buku tersebut: Prof. Dr. Ir. Hasan Basri Jumin, M.Sc., M. Husnu Abadi, SH, M.Hum., Ph.D., dan Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom.

Nama yang terakhir itu adalah sastrawan yang saya kenal sejak era tahun 1980-an. Karya sastranya beberapa kali saya baca di Majalah Panji Masyarakat. Alhamdulillah, pada hari Sabtu (9/10-2021), saya berjumpa dengan beliau di RS YARSI, Pekanbaru. Buku itu dihadiahkan langsung oleh Fakhrunnas MA Jabbar kepada saya.

Hadir juga dalam acara di RS YARSI itu sejumlah tokoh Islam di Riau, seperti Mukni (78 tahun), Rustam Effendi, Muhsin, M. Husnu Abadi, Zahirman, dan sebagainya. Saya mendapat hadiah sejumlah buku karya Fakhrunnas MA Jabbar, M. Husnu Abadi, dan juga Rustam Effendi.  Rustam Efendi pernah menjadi kepala daerah tingkat dua, dan kini menjadi Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) provinsi Riau.

Dalam acara diskusi dan sarapan di RS YARSI itulah, saya menyampaikan pandangan dan harapan, bahwa potensi dakwah di Riau itu sangat besar. Tidak berlebihan jika Riau berpeluang besar menjadi lokomotif kebangkitan peradaban Islam di Indonesia. Bangkit dan hancurnya suatu peradaban sempat saya singgung dalam khutbah Jumat di Masjid Alfalah Nurul Yaqin, Pekanbaru.

Ketika berdialog dengan para pimpinan RS YARSI ini, saya mendapat gambaran sejarah perjuangan yang luar biasa. Berawal dari sebuah klinik kecil, RS ini kemudian berkembang menjadi salah satu RS yang cukup besar dengan semangat dan cita-cita melakukan dakwah di bidang kesehatan. Jadi, para tokoh di Pekanbaru telah melakukan dakwah yang nyata. Hasilnya pun nyata, bisa dinikmati generasi berikutnya.

*****

Selama dua hari (Jumat-Sabtu, 8-9 Oktober 2021), saya memang melakukan kunjungan ke provinsi Riau.  Ada sejumlah acara penting dari Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) provinsi Riau yang saya hadiri. Jumat siang, saya diminta mengisi khutbah Jumat di Masjid al-Falah Nurul Yaqin Pekanbaru. Setelah itu, saya menghadiri acara silaturrahim dan koordinasi dengan pengurus DDII Riau, baik provinsi maupun pengurus DDII beberapa kota/kabupaten.

Pada hari Sabtu, saya meresmikan pembukaan Akademi Dakwah Indonesia (ADI) yang di Pekanbaru. Kini, sudah ada 25 ADI yang didirikan oleh DDII di berbagai kota di Indonesia. Acara peresmian ADI Pekanbaru itu cukup istimewa. Banyak tokoh hadir dalam acara tersebut. Diantaranya, Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi, dan pejabat tingkat RT, RW setempat.

Dalam sambutannya, Wakil Walikota Pekanbaru memberi semangat kepada 10 mahasiswa ADI untuk berani terjun langsung sebagai dai di Kota Pekanbaru. “Jika kamu menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong kamu,” ujarnya, mengutip satu ayat al-Quran. Wakil Walikota itu juga ketua STII (Serikat Tani Islam Indonesia) provinsi Riau. Ia menceritakan usaha untuk memajukan dan menyejahterakan petani di wilayahnya.

Saya pun menyampaikan bahwa ADI DDII adalah satu contoh terobosan kreatif dalam pendidikan. Dan itu merupakan antisipasi serta jawaban terhadap tantangan pendidikan di era disrupsi. Saya tekankan lagi, bahwa ADI dan STID Mohammad Natsir adalah universitas terbaik dan universitas sebenarnya, sebab di kampus inilah, para mahasiswa dididik menjadi manusia seutuhnya (a universal man/al-insan al-kulliy). Mereka dididik bagaimana bisa hidup dan memahami makna kehidupan. Bukan hanya diajar bagaimana bisa hidup dan cari makan.

Penyematan kopiah khas Melayu oleh Wakil Walikota Pekanbaru Ayat Cahyadi kepada Ketua Umum Dewan Da’wah Dr. Adian Husaini

Usai peresmian kampus ADI Pekanbaru, siang harinya, saya diajak mengunjungi satu pondok pesantren dan mengisi tausiyah singkat kepada para santrinya. Namanya: Pesantren al-Muslimun, berlokasi di luar kota Pekanbaru. Pesantren ini menjadi contoh kegigihan perjuangan para kader dakwah yang pernah dibina oleh Mohammad Natsir.

Pesantren ini berlokasi di atas lahan sekitar 10 hektar. Umurnya sudah mencapai 25 tahun. Ada sekitar 600 santri yang menimba ilmu di pesantren ini. Saya mendapat cerita dari seorang perintisnya yang sudah berumur 78 tahun, bahwa awalnya, santri yang didatangkan di pondok ini jumlahnya tidak sampai 10 orang.

Para perintis pesantren ini adalah pejuang-pejuang Islam yang kenyang makan asam-garam perjuangan dalam bidang sosial-politik di Indonesia. Mengikuti jejak Pak Natsir dan kawan-kawan, mereka pun tidak meninggalkan perjuangan di lapangan pendidikan. Kegigihan dan pengorbanan yang mereka lakukan saat ini membuahkan hasil yang patut disyukuri. Tentu saja, banyak hal yang perlu ditingkatkan lagi, agar pesantren ini semakin banyak melahirkan para pejuang dakwah yang hebat di masa mendatang.

Usai mengunjungi Pesantren al-Muslimun, sore harinya, saya diajak berkunjung ke Kampus UIR. Kampus yang berlokasi di Kota Pekanbaru ini tampak asri dan tertata rapi bangunan-bangunan serta pertamanannya. Kampus UIR sudah berumur 59 tahun. Kini, menempati lahan seluas 40 hektar. Bahkan, sekarang, sudah disiapkan juga lahan tambahan seluas 50 hektar. Jumlah mahasiswanya sekitar 27 ribu orang. Mereka terdaftar di 9 fakultas.

Kepada beberapa pimpinan kampus, saya menyampaikan harapan, semoga kampus UIR akan lebih banyak melahirkan para sarjana-sarjana pejuang penegak kebenaran. Bisa dikatakan, kampus ini telah mencapai satu tahap penting, yakni  mendapatkan pengakuan dan kepercayaan masyarakat. Di era disrupsi, sangatlah tepat jika kampus UIR lebih meningkatkan lagi pembinaan keimanan dan akhlak mulia kepada para mahasiswanya.

Di malam hari, saya mendapat undangan untuk mengisi acara di Universitas Abdurrab Pekanbaru. Sebelum mengisi acara dengan para siswa SMA Abdurrab dan mahasiswa baru Fakultas Kedokeran, saya sempat berdiskusi dengan pimpinan Yayasan dan Rektor Universitas Abdurrab Pekanbaru.

Kampus Abdurrab sangat bersemangat untuk menerapkan konsep Islamisasi dan pendidikan adab. Konsep itu kini dicoba diterapkan di Fakultas Kedokteran. Para mahasiswa baru kedokteran ini dipesantrenkan selama dua pekan, diberikan pembinaan intensif secara pemikiran dan praktik-praktik ibadah.

Kepada para mahasiswa baru itu, saya menyampaikan pesan agar mereka lebih mengutamakan keikhlasan dan kesungguhan dalam mencari ilmu kedokteran, sehingga mereka akan menjadi dokter-dokter yang bermanfaat bagi masyarakat. Tujuan utama mencari ilmu adalah agar mereka mengenal Tuhan yang sebenarnya dan memahami tujuan hidup mereka. Belajar ilmu kedokteran sangat besar peluangnya untuk lebih mengenal Allah SWT, sebab mereka sedang mempelajari ayat-ayat Allah.

Raja Ali Haji dalam Gurindam 12-nya, mengingatkan: “Barangsiapa mengenal Allah, maka suruh dan tegah-Nya  tiada ia menyalah.” Mengenal dan taat kepada Allah adalah makna sukses yang sebenarnya, dunia dan akhirat. Jangan terjebak dengan kesuksesan semu, sehingga berlebihan dalam memuja dan mengejar harta, tahta, kecantikan dan popularitas. Manusia yang tidak kenal Tuhannya akan hidup seperti binatang dan berujung dengan penderitaan dunia akhirat. (Lihat: QS 7:179).

Demikianlah, selama dua hari berada di Provinsi Riau, saya mendapat kesempatan yang luar biasa untuk melihat dan mengenal langsung berbagai kemajuan dakwah di jantung bumi Melayu ini. Riau memiliki potensi sejarah yang besar untuk mewujudkan kebangkitan peradaban Islam. Mereka bangga dengan Islam. Itulah modal kebangkitan yang besar. Itulah yang dikatakan Mohammad Asad: “No Civilization can prosper or even exist after having lost this pride and the connection with its own past.”

Semoga Allah SWT menolong kita semua. Aamiin. (Pekanbaru, 10 Oktober 2021).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *