Jangan Jadikan Kata “Taqwa” sebagai “Mantra”

Oleh: Dr. Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Budayawan Mochtar Lubis pernah menyebut salah satu ciri manusia Indonesia adalah hobi membuat mantra dan semboyan. Begini kata Mochtar Lubis, dalam pidato Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki Jakarta tahun 1977: “Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya takhayul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua…”

Tak berhenti sampai di situ. Berbagai mantra dan semboyan baru dibuat. Tapi itu hanya sebatas ucapan. Tidak dilaksanakan; laiknya, sebuah mantra. “Kemudian, kita membuat mantera dan semboyan baru, jimat-jimat baru, Tritura, Ampera, orde baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang merata dan adil, insan pembangunan. Manusia Indonesia sangat mudah cenderung percaya pada menara dan semboyan dan lambang yang dibuatnya sendiri.”

Begitu tandas budayawan yang juga Pemimpin Redaksi Koran Indonesia Raya tentang salah satu ciri manusia Indonesia itu. Tentu tidak semua manusia Indonesia berciri seperti gambaran Mochtar Lubis. Tapi, peringatan itu perlu kita renungkan. Sebab, tak bisa dipungkiri, terdapat jarak yang begitu jauh antara konsep ideal tujuan Pendidikan Nasional, dengan realitas produk pendidikan di lapangan.

Hingga kini, kita terus disuguhi aneka berita tentang berbagai kejahatan yang mengerikan. Kasus-kasus perkosaan dan pembunuhan biadab yang pelakunya masih usia belasan tahun banyak terjadi. Kini, ribuan anak mendekam dalam penjara anak-anak karena terlibat kasus kejahatan seksual dan sejenisnya. Belum lagi merebaknya budaya pergaulan bebas, rendahnya tradisi baca tulis, korupsi harta rakyat oleh pejabat, dan masih merebaknya tradisi jalan pintas serta kecurangan dalam meraih tujuan.

Padahal, UUD 1945 pasal 31 (3) dengan tegas menyatakan, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia. UU Pendidikan Nasional juga menyatakan tujuan pendidikan nasional adalah membenuk manusia beriman dan bertaqwa.

Bahkan, di bulan Ramadhan, biasanya kata-kata taqwa begitu sering disebut para penceramah untuk menggambarkan sasaran ideal sebuah proses ibadah Ramadhan. Tapi, mengapa sosok-sosok manusia taqwa itu begitu susah dihasilkan?

Manusia taqwa adalah manusia paling mulia (QS 49:13); bukan manusia hina. Negeri yang taqwa dijamin keberkahan dari langit dan dari bumi (QS 7:96). Mari kita bertanya, apakah kaum muslim Indonesia merupakan umat terbaik di negeri ini dan di dunia? Apakah negeri kita sedang diberkahi Allah?

Lihatlah, nasib rakyat kita yang tidak mudah mendapatkan harga daging murah. Hak budget rakyat yang dikurangi karena harus membayar utang dan bunga utang luar negeri. Di tengah-tengah kekayaan alam yang sangat melimpah, kita masih melihat ada orang-orang yang sekedar memenuhi kebutuhan pokok saja, susah. Apakah ini tanda-tanda Allah kucurkan berkahnya kepada kita semua?

Kurikulum taqwa

Semua pakar pendidikan pastilah mafhum, bahwa tujuan pendidikan hanya bisa dicapai dengan kurikulum yang selaras dengan tujuannya. Kurikulum dijabarkan dalam program dan dievalusasi secara berkala. Kurikulum adalah lintasan; jalan menuju tujuan. Mungkinkah manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa akan lahir dari kurikulum yang “emoh” (menolak) menjadikan wahyu Tuhan sebagai pedomannya?

Manusia taqwa tak akan lahir jika wahyu Tuhan diletakkan lebih rendah nilainya ketimbang produk riset rasional-empiris. Berkah Allah SWT tidak akan dikucurkan jika para elite negara secara sistematis menggusur konsep ilmu dan keadilan Tuhan, sehingga menempatkan para penghibur lebih mulia daripada ulama. Pendidikan kita tak akan pernah melahirkan manusia-manusia taqwa jika derajat ilmu sudah dinistakan menjadi pengabdi ketamakan Kapitalisme.

Manusia taqwa – baca: manusia mulia — akan lahir dari rahim pendidikan yang menempatkan ilmu sebagai wahana mulia pengabdian kepada Yang Maha Kuasa. Kurikulum taqwa menempatkan ilmu secara adil dan beradab; dengan meletakkan pendidikan adab sebagai basis pendidikan; menempatkan ilmu-ilmu fardhu ain sebagai sentral; dilengkapi dengan ilmu-ilmu fardhu kifayah secara proporsional, mengikuti potensi murid dan kebutuhan masyarakat.

Kurikulum taqwa menempatkan guru sebagai mujahid, pekerja intelektual yang terhormat. Guru bukan berperan sebagai “tukang ngajar” bayaran yang diperlakukan seperti buruh pabrik. Guru yang sholeh, cerdas, berakhlak mulia, dan kreatif adalah kunci kemajuan pendidikan. Walhasil, kurikulum taqwa hanya akan lahir dari para pemimpin yang jujur; satu kata, satu perbuatan; yang tidak menempatkan kata “Taqwa” sebagai mantra. Wallahu a’lam. (***)

Editor: JS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *