Keteladanan Mohammad Natsir dalam Penulisan dan Pemikiran Islam

Oleh: Dr. Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Melalui berbagai tulisannya, tampak Pak Natsir sudah membaca banyak literatur tentang berbagai bidang keilmuan dalam Islam. Dalam tulisan-tulisannya, Mohammad Natsir mampu meramu dengan baik, sumber-sumber dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis Barat. Termasuk artikelnya tentang al-Ghazali ini.

Sebagai lulusan SMA Belanda (AMS), artikel Mohammad Natsir tentang Imam al-Ghazali ini terbilang mengagumkan. Apalagi, bicara tentang Teori Kasusalitas. Ini bukan tema yang biasa dibahas dalam dunia pemikiran Islam. Tahun 2005, Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi lulus ujian doktor di ISTAC-IIUM, dengan disertasi tentang Teori Kausalitas al-Ghazali.

Dalam artikel ini, Mohammad Natsir memaparkan keagungan pemikiran dan kiprah al-Ghazali, dibandingkan dengan prestasi ilmuwan-ilmuwan Barat. Kitab Maqashidul Falasifah-nya al-Ghazali, misalnya, sudah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke bahasa Latin pada abad ke-12 M. Di sini, Mohammad Natsir juga menguraikan teori kausalitas al-Ghazali yang mendahului teori David Hume (1711-1776), tujuh ratus tahun sebelumnya.

Mohammad Natsir membantah bahwa David Hume-lah sarjana pertama yang mengungkap teori kausalitas (causaliteitleer). Natsir tidak menolak jasa David Hume dalam soal ini. Tetapi, tulisnya, ”Jangan dilupakan, bahwa 700 tahun sebelum David Hume, telah pernah seorang filosof Muslim di daerah Timur yang mengupas masalah ini dalam Kitabnya, Tahafutul Falasifah.”

Setelah mengupas sedikit teori kausalitas al-Ghazali, Mohammad Natsir mengingatkan: ”Aneh! Hal ini rupanya tidak hendak diingat orang. Dan kalau kita ketahui bahwa seorang filosof Barat sebagai Immanuel Kant mengakui, bahwa David Hume-lah yang membukakan matanya, dapatlah kita mengira-ngirakan betapa besar kadarnya kekuatan ruhani Ghazali dibandingkan dengan filosof-filosof yang masyhur di Barat itu.”

Kemudian, secara khusus, Mohammad Natsir memberi komentar terhadap pemikiran al-Ghazali: ”Kalau Imam Ghazali oleh karena ini tidak dinamakan seorang filosof-’aqli, maka itu tidak berarti bahwa akalnya kurang dipakai dibandingkan dengan filosof yang lain-lain. Tak kurang Al-Ghazali mengupas falsafah Socrates, Aristoteles dan memperbincangkan pelbagai masalah yang sulit-sulit dengan cara yang halus dan tajam sekali dalam kitabnya yang tersebut di atas. Tak kurang ia membentangkan ilmu mantik dan tak kurang pula menyusun ilmu-ilmu yang tahan uji dibandingkan dengan karangan-karangan filosof yang lain. Semua ini menunjukkan ketajaman akalnya dan memakai akal itu sebagai salah satu nikmat yang dikurniakan Allah kepada manusia. Tapi dalam pada itu ia tidak hendak lupa, bahwa akal ini pun dapat bekerja hanya sampai kepada suatu batas yang tak dapat dilampaui. Apabila filosof yang lain masih terus juga menurunkan akal itu ke mana-mana, di bawa oleh akal itu sendiri, walaupun sudah bukan medan pekerjaannya lagi, — serta menjadikan akal sebagai hakim yang menghabiskan dalam semua hal –, pada saat yang demikian itu Imam Ghazali tidak enggan berkata dengan khusyu’ ”wallahu a’lam!” – ”Allah yang lebih mengetahui!” – dan kembali kepada Kitab (Al-Quran), Yang tak syak lagi menjadi petunjuk bagu mereka yang takwa.”

Melalui artikel yang pendek tersebut, Natsir menguraikan jasa-jasa besar al-Ghazali bagi umat Islam, disamping juga kontroversi terhadap pemikirannya dan apresiasi para ilmuwan Barat terhadapnya. Tentang kontroversi terhadap pemikiran al-Ghazali, Natsir menulis, bahwa itu:”… ialah suatu hal yang galib diterima oleh setiap orang yang berjalan di muka bumi merintis jalan baru, yang mendengarkan suara keyakinan yang teguh yang berbisik di dalam hati, dan tidak hendak turut-turut ke hilir ke udik, seperti pucuk aru dihembus angin.”

Penguasaan Mohammad Natsir terhadap pemikiran-pemikiran para pemikir Muslim klasik bisa dilihat dalam berbagai artikelnya yang mengupas sosok dan pemikiran Ibnu Thufail, Ibnu Sina, Ibnu Miskawaih, Abu Nasr Al-Farabi, Ikhwan as-Shafa, juga kupasannya tentang aliran Mu’tazilah dan Ahli Sunnah. Melalui berbagai tulisannya yang mengupas keagungan sejarah peradaban dan pemikir Muslim, Natsir menyampaikan pesan yang jelas kepada kaum Muslim: ”Jangan merasa rendah diri melihat kehebatan peradaban Barat!”

Berbagai tulisan Mohammad Natsir menjelaskan, bahwa melalui para ilmuwan Muslim-lah, Barat mengenal pemikiran-pemikiran Yunani yang sebenarnya telah terkubur. Sebuah tulisan Mohammad Natsir yang berjudul ”Jejak Islam dalam Kebudayaan” (Pandji Islam, tahun 1937), menjelaskan bagaimana pengaruh Ibn Haitham pada abad ke-11 terhadap tulisan Leonardo da Vinci, Johan Kepler, Roger Bacon, dan lain-lain.

Karena itu, Pak Natsir mengajak umat Islam memahami warisan sejarah budayanya dengan benar. Ia mencontohkan, bagaimana ketelitian dan kecermatan kaum Muslimin dalam mengumpul, memilih dan menyaring hadits-hadits Nabi Muhammad saw. Lalu, berangkat dari ilmu dan keyakinannya akan kebenaran dan ketinggian ajaran Islam, Pak Natsir menyerukan kepada kaum Muslimin:

”Agama manakah, falsafah mazhab apakah dan kebudayaan aliran manakah, yang telah mendidik pengikutnya kepada ruh intiqad yang sampai demikian tinggi tingkatnya? Dalam hal ini, sudah pada tempatnya bilamana kita kaum Muslimin menjawab dengan kontan dan tegas: Tak lain yang mendidik kami sampai demikian adalah Agama kami, yakni Agama Fitrah, Agama yang cocok dan selaras dengan fitrah kejadian manusia!”. (***)

Editor: JS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *