76 Tahun Kemerdekaan: Kita Syukuri yang Ada

Oleh: Dr. Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Pada tanggal 17 Agustus 2021, Indonesia memperingati kemerdekaannya ke-76. Sejak merdeka, kita sudah menetapkan Tujuan Kemerdekaan kita — sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 – ”membentuk pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.”

Sudahkah tujuan itu tercapai? Atau, masih jauhkah tujuan yang hendak kita tuju itu? Silakan menilai sendiri kondisi bangsa kita sekarang ini!

Mengapa kondisi kita seperti sekarang? Sebabnya jelas, karena kita tidak mampu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. Dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan dengan jelas, bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.”

Jika kita menyadari bahwa kemerdekaan adalah rahmat Allah, maka seharusnya kita memanfaatkan dan mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang diridhai oleh Allah.
Seharusnya kita mensyukuri kemerdekaan ini dengan menjadikan ajaran-ajaran Allah SWT sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; bukan menjadikan hawa nafsu dan aturan-aturan kolonial sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Allah SWT telah menjanjikan, bahwa: “Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri” (QS Al-A’raf:96).

Beberapa ayat al-Quran al-Karim memberikan penjelasan tentang kehancuran suatu bangsa. ”Maka apabila mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba (sekonyong-konyong), maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” (QS al-An’am:44).

”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepatutnya berlaku keputusan Kami terhadap mereka, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS al-Isra’:16)


Sebelum kemerdekaan, banyak ulama dan pejuang Islam telah berusaha keras menjelaskan kepada seluruh bangsa Indonesia, khususnya kepada para pemuka negeri ini yang beragama Islam, bahwa Islam patut dijadikan sebagai panduan dalam mengatur Indonesia merdeka.

Pada tahun 1922, tokoh dan pendiri Al-Irsyad, Syekh Ahmad Surkati, misalnya, pernah berdebat dengan para tokoh komunis yang tergabung dalam Syarekat Islam Merah. Tema debatnya ialah: “Dengan apa Indonesia ini bisa merdeka. Dengan Islam kah atau Komunisme?” Al-Irsyad diwakili oleh Syekh Ahmad Surkati, Umar Sulaiman Naji dan Abdullah Badjerei, sedang SI Merah diwakili Semaun, Hasan, dan Sanusi. Tentu saja, perdebatan itu tidak mencapai titik temu.

Para ulama dan pemimpin-pemimpin Islam terus berusaha mengingatkan pentingnya bangsa Indonesia menjadikan ajaran-ajaran Ilahi sebagai panduan mengatur kehidupan pribadi, masyarakat, bangsa dan negara. Mereka tak kenal lelah dalam berdakwah. Ada yang menerima, ada yang menolak.

Tapi, apa pun kondisinya saat ini, umat Islam Indonesia perlu mensyukuri hasil perjuangan para pendahulunya. Tidaklah patut mengesampingkan hasil-hasil perjuangan mereka. Tidaklah etis melupakan jasa-jasa mereka, dan menganggap seolah-olah di Indonesia ini belum pernah ada ulama atau pejuang Islam yang berusaha keras menegakkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Sebagai umat Islam sepatutnya kita menghargai perjuangan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, Pangeran Diponegoro, Syekh Yusuf Maqassari, Imam Nawawi al-Bantani, Kyai Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Ahmad Surkati, A. Hassan, Moh. Natsir, Hamka, KH Imam Zarkasyi, dan sebagainya.

Mereka telah menorehkan jasa-jasa besar dalam perjuangan Islam di Indonesia ini. Adalah tugas kita sekarang, sebagai generasi pelanjut mereka, berjuang lebih keras, melanjutkan perjuangan mereka, agar cita-cita Islam dapat benar-benar tegak di bumi Indonesia.

Para pendahulu kita dahulu adalah orang-orang yang memiliki kualitas ilmu yang tinggi dan sekaligus pejuang-pejuang yang gigih dalam menyebarkan Islam. Selain menggunakan jalan perang langsung dengan penjajah, mereka senantiasa menyebarkan dakwah melalui jalur keilmuan untuk mendidik masyarakat agar mengenal ajaran-ajaran Islam dengan baik.

Mereka sangat tekun dan sabar dalam membimbing masyarakat melalui pondok-pondok pesantren dan sekolah-sekolah yang mereka dirikan sehingga dari situ lahirlah ulama-ulama dan dai-dai yang kemudian menyebarkan Islam ke berbagai penjuru tanah air. Para guru dan dai itulah yang berjasa besar menjaga aqidah dan akhlak masyarakat kita sehingga mereka mayoritasnya tetap menjadi muslim, dan enggan melepaskan Islam sebagai agama mereka.

Adalah anugerah dan pertolongan Allah yang sangat besar, bahwa setelah dijajah selama ratusan tahun, Indonesia saat ini masih menjadi negeri muslim terbesar dengan penduduk muslim sekitar 210 jta orang. Ini patut kita syukuri dan kita jaga. Ini amanah para ulama dan pejuang kemerdekaan.

Karena itu, tanggung jawab kita saat ini adalah mensyukuri kemerdekaan yang diraih dengan pengorbanan begitu besar. Caranya, terus kita tingkatkan ketaatan kepada Allah SWT dan tak lelah dalam mengajak saudara-saudara sebangsa lainnya untuk bersama-sama menundukkan diri kepada Allah SWT, tidak bersikap angkuh, apalagi merasa lebih hebat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga Allah SWT meridhoi kita semua. Amin. (DDII, 16 Agustus 2021).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *