Merdeka Tapi Tak Gembira, Mengapa?

Oleh: Dr. Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Pada tanggal 17 Agustus 1951 —  hanya enam tahun setelah kemerdekaan Negara Republik Indonesia —  Mohammad Natsir menulis sebuah artikel berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.”

Mohammad Natsir adalah salah satu Pahlawan Nasional yang berjasa besar dalam mengembalikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui “Mosi Integral”-nya.  Artikel Pak Natsir ini sangat penting untuk kita renungkan, karena masih sangat relevan dengan kondisi bangsa kita saat ini. Bahkan, kondisi kejiwaan bangsa kita saat ini bisa jadi lebih parah dari apa yang digambarkan Mohammad Natsir tahun 1951 itu.

Berikut ini petikan tulisan tulisan Mohammad Natsir tersebut:

“Hari ini, kita memperingati hari ulang tahun negara kita. Tanggal 17 Agustus adalah hari yang kita hormati. Pada tanggal itulah, pada 6 tahun yang lalu, terjadi suatu peristiwa besar di tanah air kita. Suatu peristiwa yang mengubah keadaan seluruhnya bagi sejarah bangsa kita. Sebagai bangsa, pada saat itu, kita melepaskan diri dari suasana penjajahan berpindah ke suasana kemerdekaan…

Kini!

Telah 6 tahun masa berlalu. Telah hampir 2 tahun negara kita memiliki kedaulatan yang tak terganggu gugat. Musuh yang merupakan kolonialisme, sudah berlalu dari alam kita. Kedudukan bangsa kita telah merupakan kedudukan bangsa yang merdeka. Telah belajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Telah menjadi anggota keluarga bangsa-bangsa. Penarikan tentara Belanda, sudah selesai dari tanah air kita. Rasanya sudahlah boleh bangsa kita lebih bergembira dari masa-masa yang lalu. Dan memang begitulah semestinya!

Akan tetapi, apakah yang kita lihat sebenarnya?

Masyarakat, apabila dilihat wajah mukanya, tidaklah terlalu berseri-seri. Seolah-olah nikmat kemerdekaan yang telah dimilikinya ini, sedikit sekali faedahnya. Tidak seimbang tampaknya laba yang diperoleh dengan sambutan yang memperoleh!

Mendapat, seperti kehilangan!

Kebalikan dari saat permulaan revolusi. Bermacam keluhan terdengar waktu itu. Orang kecewa dan kehilangan pegangan. Perasaan tidak puas, perasaan jengkel, dan perasaan putus asa, menampakkan diri. Inilah yang tampak pada saat akhir-akhir ini, justru sesudah hampir 2 tahun mempunyai negara merdeka berdaulat.

Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau.

Mengapa keadaan berubah demikian?

Kita takkan dapat memberikan jawab atas pertanyaan itu dengan satu atau dua perkataan saja. Semuanya harus ditinjau kepada perkembangan dalam masyarakat itu sendiri. Yang dapat kita saksikan ialah beberapa anasir dalam masyarakat sekarang ini, di antaranya:

Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai. Sengaja ditonjol-tonjolkan kemuka apa yang telah dikorbankannya itu, dan menuntut supaya dihargai oleh masyarakat. Dahulu, mereka berikan pengorbanan untuk masyarakat dan sekarang dari masyarakat itu pula mereka mengharapkan pembalasannya yang setimpal… Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu, dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri. Segala kekurangan dan yang dipandang tidak sempurna, dibiarkan begitu saja. Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang di luar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat!… ”

”Saudara baru berada di tengah arus, tetapi sudah berasa sampai di tepi pantai. Dan lantaran itu tangan saudara berhenti berkayuh, arus yang deras akan membawa saudara hanyut kembali, walaupun saudara menggerutu dan mencari kesalahan di luar saudara. Arus akan membawa saudara hanyut, kepada suatu tempat yang tidak saudara ingini… Untuk ini perlu saudara berdayung. Untuk ini saudara harus berani mencucurkan keringat. Untuk ini saudara harus berani menghadapi lapangan perjuangan yang terbentang di hadapan saudara, yang masih terbengkelai… Perjuangan ini hanya dapat dilakukan dengan enthousiasme yang berkobar-kobar dan dengan keberanian meniadakan diri serta kemampuan untuk merintiskan jalan dengan cara yang berencana.”

*****

Demikian pesan-pesan Mohammad  Natsir, seperti dapat kita baca selengkapnya pada buku Capita Selecta 2, (Jakarta: PT Abadi, 2008).

Syekh Amir Syakib Arsalan, dalam buku terkenalnya, Limaadza Takhkharal Muslimuuna wa-limaadza Taqaddama Ghairuhum, juga menyebutkan pentingnya budaya cinta pengorbanan sebagai syarat keunggulan suatu bangsa. Bangsa-bangsa yang kini dikenal sebagai bangsa yang kuat, dibangun dengan semangat cinta pengorbanan dari rakyatnya untuk bangsanya.

Pak Natsir pun pernah mengutip kata-kata Dr. Niuwenhuis dari Belanda, bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh sekelompok guru yang ikhlas berkorban untuk bangsanya. Maka, kata kunci kemajuan bangsa kita adalah bagaimana melahirkan guru-guru yang hebat dan ikhlas? Di mana mendidik mereka?

Kini, lihatlah kondisi keseharian masyarakat dan negeri kita. Apakah budaya cinta pengorbanan itu masih ada? Apakah di jalan-jalan para pengendara saling memberi jalan untuk yang lain, atau saling serobot hak orang lain?

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” begitu perintah Lagu Indonesia Raya. Jiwa yang sehat adala jiwa yang cinta pengorbanan, sebab di situlah sebenarnya kita meraih pahala dari Allah SWT.

Karena itu, tugas penting pemerintah adalah membangun jiwa bangsa. Para pemimpin dan rakyat kita harus berjuang membersihkan jiwanya (tazkiyyatu nafs), sehingga jiwa kita bersih dari penyakit munafik, malas, sombong, dengki, riya, cinta jabatan, penakut, lemah jiwa, dan sebagainya.

Membangun jalan tol, jembatan, waduk, dan lain-lain, adalah penting. Tapi, jangan lupakan untuk membangun jiwa bangsa kita.  “Sungguh sukses orang yang membersihkan jiwanya, dan sungguh binasa orang yang mengotori jiwanya.”  (Lihat, QS 91: 9-10). (15 Agustus 2021).

Editor: Dudy S.Takdir

Sumber: mediadakwah.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *