Dihadiahi Beasiswa Pendidikan Timur Tengah, KH. Abdul Wahid Alwi Kuak Sikap Teladan Sosok Mohammad Natsir

dewandakwah.com – Dalam webinar peringatan 113 tahun Mohammad Natsir, Senin (12/07/2021), Wakil Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, KH. Abdul Wahid Alwy, MA menyampaikan sepenggal kisah tentang Pak Natsir yang disiarkan langsung melalui Channel YouTube Dakho TV dan Zoom Meeting. Ia menceritakan tentang bagaimana mengenal sosok Pak Natsir yang patut dijadikan suri tauladan terutama dalam Akhlakul Karimah. Sejak kecil ia sudah dikenalkan pada Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang didirikan oleh Mohammad Natsir.

Pada tahun 1955 di lapangan daerah Lamongan Jawa Timur menjadi tempat pertama kali Masyumi berkampanye. Masyumi merupakan partai besar Islam pertama kali di Indonesia yang menegakkan syariah Islam pada saat itu.

Kampanye besar tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh pendiri Masyumi di antaranya Pak Natsir, Prawoto, Kasman Singodimedjo, dan KH. Ishaq Anshori. Cuaca yang kurang bersahabat pada waktu itu tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk mendengarkan orasi yang disampaikan oleh KH. Ishaq Anshori. Hal tersebut tentu membuatnya merasakan bangga terhadap masyarakat dengan sikap mereka yang saling menghargai dan menghormati. Dalam hal ini ia melihat bahwa cinta nya seorang pemimpin kepada umat akan berbalik yaitu umat juga mencintai pemimpinnya.

Pada tahun 1966, ketika Pak Natsir sudah keluar dari penjara di zaman orde lama, ia pun langsung bergerak mengunjungi setiap daerah. Hal ini disebut dengan Turba (Turun ke Bawah). Turba yang ia lakukan di antaranya yaitu mengunjungi Pesantren Persatuan Islam (Persis) di kota Bangil, yang dikelola oleh KH. Abdul Qodir Hasan putra Al-Hasan.

Disini lah awal KH. Abdul Wahid bertemu dengan tokoh pendiri Masyumi. Ia langsung ditugaskan oleh sang guru untuk membuat tulisan tentang orasi Pak Natsir ketika berkunjung di Pesantrennya tersebut. Singkat cerita pada awal tahun 1969, KH. Abdul Wahid Alwy ditawarkan oleh Pak Natsir untuk menempuh pendidikan ke Saudi Arabia melalui jalur beasiswa yang dihadiahkan oleh Raja Saudi pada saat itu. Lalu ia pun menerima, dan berangkatlah dengan 8 orang utusan dari Indonesia.

Ada beberapa pesan yang ia sampaikan ketika pertemuan di rumah Pak Natsir mengenai sikap dan perilaku beliau yang bisa diteladani, hal ini terlihat pada saat ia memberikan nasihat kepada 8 orang yang diberikan hadiah beasiswa oleh Raja Saudi Arabia. Yang pertama tentang Keikhlasan. Pertanyaan yang ia ajukan kepada 8 orang tersebut tentu mengandung sebuah makna yang terkandung di dalamnya yaitu “Bawalah selalu niat yang ikhlas karena Allah baik dalam dunia pendidikan, politik, dagang, atau yang lainnya. Ingat selalu kepada Allah, ridho kepadaNya, dan mengharap SurgaNya” ucap Pak Natsir kepada 8 orang tersebut.

Yang kedua yaitu kepedulian. Jiwa peduli seorang Pak Natsir sangatlah tinggi, terutama pada orang-orang pedalaman. Beliau memikirkan orang orang yang ada di daerah terpencil. Hal tersebut  menjadi salah satu alasan para kader pak Natsir ditempatkan di daerah pedalaman.

Berita terkait : Peringati 113 Tahun Mohammad Natsir, Dewan Da’wah Gelar Webinar Selama Sepekan

Bertepatan pada tahun 1980, Pak Natsir diundang ke Riyadh untuk menerima penghargaan dari Raja Faishal yang dijuluki dengan King Faishal Price. Berkat aksi sosialnya yang menggalang dana untuk para fakir miskin melalui perantara surat rekomendasi dari Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abbas, seorang Mufti Saudi pada waktu itu.

Sikap selanjutnya yang patut kita teladani dari seorang pendiri Masyumi yaitu Mujahadah yang tinggi.  Dengan perjuangan beliau berdakwah di daerah pedalaman tentu mengajarkan kita akan pentingnya dakwah Islam ini menyebar di seluruh penjuru Indonesia maupun dunia. []

Sumber: stidnatsir.ac.id

Rep: Senjadiana/Marwah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *