Membangun Sinergitas dan Menguatkan Soliditas Ukhuwwah

Oleh: KH. Prof. Dr. Didin Hafidhuddin, M.Sc

(Ketua Pembina Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

بسم الله الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله ولا حول ولا قوة إلا بالله

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Yth. Bapak/Ibu Badan Pembina Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia.

Yth. Ketua Umum Dewan Pengurus Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia beserta jajaran pengurus lainnya, baik pusat maupun daerah.

Bapak/Ibu yang hadir pada acara Haflah Idul Fithri 1442 H yang saya hormati.

Puji Syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita, khususnya keluarga besar Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia, sehingga pada hari ini kita dapat menyelenggarakan sillaturrahmi Haflah Idul Fithri 1442 H secara virtual. Mudah-mudahan walaupun secara virtual tidak mengurangi esensi sillaturrahmi dalam rangka menguatkan sinergi dan soliditas ukhuwwah islamiyyah untuk memaksimalkan tugas dakwah amar makruf nahyi mungkar, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama dalam barisan yang rapih dan teratur. Shalawat dan salam semoga terlimpah dan tercurah pada junjungan alam Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, dan sahabatnya serta para pengikutnya sepanjang zaman.

Dalam suasana  yang penuh dengan keberkahan ini terlebih dahulu, saya ingin menyampaikan ucapan “Minal ‘Aidin wal Faizin Taqabbalallah minna wa minkun, kullu ‘Amin wa antum bi khair” (من العائدين والفائزين تقبل الله منا ومنكم كل عام وأنتم بخير). Mohon maaf lahir dan bathin dari semua dosa dan kesalahan, baik yang dilakukan dengan sengaja maupun tidak, terutama dalam kapasitas sebagai Ketua Badan Pembina Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia.

Semoga ibadah puasa kita di bulan suci Ramadhan yang lalu disertai dengan rangkaian ibadah lainnya diterima Allah SWT dan kita dapat dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan yang akan datang dalam keadaan sehat wal ‘afiat.

Berkaitan dengan bahasan materi Haflah Idul Fitri hari ini dengan tema: “Membangun Sinergitas dan Menguatkan Soliditas Ukhuwwah” menuju kemenangan yang hakiki, izinkan saya menyampaikan firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah [9] ayat 71-72:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٧1﴾ وَعَدَ اللّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿٧٢﴾. ﴿التوبة:71-72﴾.

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya (71) Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di syurga `Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar (72).” (QS. At-Taubah [9]: 71-72).

Dari dua ayat tersebut di atas, dapat diketahui bahwa karakteristik dan perilaku orang-orang yang akan mendapatkan rahmat dan pertolongan-Nya dalam kehidupan di dunia ini dan kelak akan dimasukkan ke dalam syurga-Nya, adalah antara lain sebagai berikut:

Pertama, mukmin dan mukminah yang selalu bersinergi dengan sesamanya, saling mendukung dalam kebaikan dan takwa, saling menolong dalam berbagai kegiatan ibadah dan muamalah, dan berkolaborasi secara aktif dan produktif. Membangun team work yang solid dan kuat, disertai kesungguhan dan keikhlasan dalam melaksanakan amaliah jamaiyyah. Selalu berusaha menguatkan ta’liful qulub, ta’liful fikrah, dan ta’liful harakah. Firman-Nya dalam QS. Ali Imran [3] ayat 103:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ. ﴿ال عمران: ١٠٣﴾.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran [3]: 103).

Dalam implementasinya disertai kegiatan yang menguatkan soliditas, seperti saling mendoakan untuk kebaikan, saling bersillaturrahmi, saling membantu dan memberikan pertolongan, selalu berusaha bermusyawarah dalam memecahkan masalah sosial kemasyarakatan dan melaksanakan huququl muslim.

Berusaha menghindarkan dan menjauhkan diri dari pertentangan, perpecahan, saling memfitnah, saling menggunting dalam lipatan, penuh dengan hasad dan dengki kepada sesama orang-orang yang beriman, apalagi kepada sesama teman dan sahabat seperjuangan. Firman Allah dalam QS. Al-Hasyr [59] ayat 10.

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. ﴿الحشر: ١٠﴾.

 “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr [59]: 10).

Kedua, aktif dalam melaksanakan kegiatan dakwah amar makruf nahyi mungkar dalam berbagai bidang kehidupan, melalui lisan, tulisan, harta, bahkan jabatan dan kedudukan. Artinya jabatan dan kedudukan yang diemban dimanfaatkan untuk menebarkan kebaikan dan melaksanakan amar makruf nahyi mungkar. Dalam kegiatan dakwah ini umat Islam harus menjadi pemain aktif sesuai dengan bidangnya. Jangan menjadi penonton. Sebab hanya pemainlah yang ada harapan mendapatkan kemenangan.

Karena tugas dakwah adalah tugas yang mulia walaupun berhadapan dengan berbagai tantangan dan kesulitan. Dakwah berkaitan dengan Al Falah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ali Imran [3] 104:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. ﴿ال عمران: ١٠٤﴾.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 104).

Dakwah pun berkaitan dengan pertolongan dari Allah SWT. Firman-Nya dalam QS. Al-Hajj [22] ayat 40 dan 41:

…وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ ﴿٤٠﴾ الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ ﴿٤١﴾. ﴿الحج: 40-٤١﴾.

“…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa (40) (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan (41).” (QS. Al-Hajj [22]: 40-41).

Dakwah juga berkaitan dengan khaira ummah, umat yang terbaik dan umat yang berkwalitas yang menjadi contoh bagi umat lainnya. Firman-Nya dalam QS. Ali Imran [3] ayat 110:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ. ﴿ال عمران: ١١٠﴾.

 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran [3]: 110).

Sebaliknya, apabila kita berdiam diri tidak mau terlibat dalam kegiatan dakwah dan hanya menjadi penonton, maka ada dua akibat negatif yang akan dirasakan oleh kita semuanya, yaitu: 1) Yang akan berkuasa adalah pemimpin yang buruk, yang tidak bermoral, dan berkhianat. 2) Do’a tidak akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Dakwah yang harus dilakukan kita semuanya adalah dakwah yang komprehensif, mencakup semua bidang kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, dan juga politik yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dan bangsa, terutama kaum dhuafa yang jumlahnya semakin hari semakin banyak.

Ketiga, berusaha terus menerus melaksanakan shalat di awal waktu, bagi laki-laki di masjid secara berjamaah (dengan tetap memperhatikan protokol Kesehatan). Shalat berjamaah yang istiqomah diharapkan melahirkan kesadaran bermu’amalah yang tinggi antara sesama umat, seperti hanya berbelanja di toko atau di kedai milik umat sendiri.

Keempat, berusaha menunaikan zakat, infaq/shadaqah dan atau wakaf. Dengan kegiatan ini, harta yang kita miliki akan terus berkembang memberikan kebaikan dan kemanfaatan bagi pemiliknya maupun masyarakat yang membutuhkan. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 261, 273 dan QS. Ar-Rum [30] ayat 39.

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ. ﴿البقرة: ٢٦١﴾.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 261).

لِلْفُقَرَاء الَّذِينَ أُحصِرُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ ضَرْباً فِي الأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ. ﴿البقرة: ٢٧٣﴾.

 “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 273).

وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّباً لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ. ﴿الروم: ٣٩﴾.

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Rum [30]: 39).

Kelima, selalu berusaha melaksanakan ketaatan yang optimal kepada Allah dan Rasul-Nya dalam semua dimensi kehidupan, baik pribadi, keluarga, organisasi, maupun masyarakat dan bangsa.

Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan karunia serta pertolongan-Nya kepada kita semua dalam melaksanakan kegiatan dakwah islamiyyah yang penuh dengan dinamika dan tantangan. Semoga kita semuanya tetap istiqomah dalam kegiatan yang mulia ini, yaitu dakwah amar makruf nahyi mungkar. Wallahu a’lam bisshowab

  • Disampaikan pada acara Haflah Idul Fithri 1442 H, Keluarga Besar Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia, Senin 26 Syawal 1442/07 Juni 2021 M.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *